BACAKORAN.CO – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) bergerak melemah terhadap sejumlah mata uang utama setelah pelaku pasar kembali mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Pergerakan tersebut terjadi setelah sejumlah data ekonomi Amerika Serikat (AS) tercatat lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Kondisi ini turut memberikan ruang bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih positif.
Pada akhir pekan lalu, rupiah ditutup di kisaran Rp17.830 per USD. Posisi tersebut relatif menguat dibandingkan perdagangan sebelumnya.
BACA JUGA:USD Melemah, Rupiah Menguat ke Rp17.870! Cek Kurs Dolar dan Mata Uang Hari Ini
Rupiah Mendapat Sentimen Positif dari Dalam Negeri
Selain faktor eksternal, penguatan rupiah juga mendapat dukungan dari sentimen domestik.
Presiden Prabowo Subianto memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 6 persen pada akhir tahun.
Optimisme tersebut ditopang oleh keberlanjutan realisasi investasi dan penciptaan lapangan kerja.
Pemerintah juga berencana menarik kembali sebagian dividen perusahaan milik negara untuk memperkuat ketahanan fiskal.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat membantu mempercepat pengurangan utang sekaligus meningkatkan kredibilitas fiskal Indonesia.
Jika sentimen tersebut terus terjaga, prospek rupiah berpotensi tetap mendapatkan dukungan meskipun pergerakan mata uang domestik masih sangat dipengaruhi kondisi global.
BACA JUGA:Rupiah Waspada! Dolar AS Menanti Data Tenaga Kerja, Minyak Melonjak
Konflik Timur Tengah Masih Menjadi Perhatian Pasar
Dari sisi geopolitik, pasar masih mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran.
Prospek perdamaian di Timur Tengah kembali menghadapi ketidakpastian setelah Presiden Donald Trump menyatakan tidak tertarik memperpanjang persetujuan yang telah jatuh tempo dengan Iran.
Situasi tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas pasar keuangan global.
Investor biasanya akan mencermati perkembangan geopolitik karena eskalasi konflik dapat memengaruhi harga energi, inflasi, arus modal, serta kebijakan moneter negara-negara besar.