BACAKORAN.CO – JAKARTA – Dolar Amerika Serikat (USD) relatif menguat terhadap sejumlah mata uang utama seiring kenaikan harga minyak dunia dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Kebuntuan pembahasan antara Amerika Serikat dan Iran terkait Selat Hormuz ikut mendorong perhatian investor terhadap risiko pasokan energi global. Kondisi tersebut membuat USD kembali diminati sebagai salah satu aset safe haven.
Di sisi lain, yen Jepang bergerak mendekati level 160 per USD. Pergerakan tersebut kembali memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan intervensi otoritas Jepang untuk menahan pelemahan yen.
BACA JUGA:USD Melemah, Rupiah Menguat ke Level Rp17.830 per Dolar AS: Simak Kurs Bank Hari Ini
Yen Mendekati Level 160 per USD
Yen menjadi salah satu perhatian utama pasar valuta asing.
Nilai tukar yen bergerak di sekitar 159,65 per USD berdasarkan data kurs internasional yang tersedia.
Level tersebut mendekati ambang psikologis 160 yen per USD.
Pelemahan yen yang semakin dalam dapat meningkatkan tekanan terhadap pemerintah dan bank sentral Jepang. Pasar pun kembali mencermati kemungkinan langkah intervensi apabila pergerakan mata uang dianggap terlalu cepat atau berlebihan.
Ketidakpastian geopolitik juga membuat investor meningkatkan permintaan terhadap dolar sebagai aset yang dianggap relatif aman.
BACA JUGA:Rupiah Waspada! Dolar AS Menanti Data Tenaga Kerja, Minyak Melonjak
GBP Tertekan, Pasar Tenaga Kerja Inggris Melunak
Pound sterling (GBP) juga bergerak melemah tipis terhadap USD.
GBP berada di sekitar 1,352 per USD, turun dari level sekitar 1,354 pada awal pekan.
Tekanan terhadap pound muncul setelah sejumlah indikator menunjukkan pasar tenaga kerja Inggris mulai mengalami pelemahan.
Tingkat pengangguran Inggris tercatat 4,9% pada Juni, lebih tinggi dibandingkan ekspektasi 4,8%.
Sementara itu, jumlah lowongan kerja turun menjadi sekitar 707 ribu dalam tiga bulan hingga Juli.