Faktor utama di balik kenaikan tersebut adalah lonjakan permintaan chip AI.
Perkembangan pusat data, komputasi berperforma tinggi (high-performance computing/HPC), dan infrastruktur AI membuat kebutuhan terhadap chip canggih terus meningkat.
Pada saat yang sama, kapasitas produksi node canggih dari perusahaan foundry besar semakin terbatas.
Kondisi tersebut memberikan ruang bagi Samsung untuk menaikkan harga layanan manufakturnya.
Persaingan kapasitas juga berkaitan dengan posisi TSMC, perusahaan foundry terbesar dunia.
Ketika kapasitas produksi chip canggih TSMC semakin ketat, sebagian pelanggan memiliki alasan untuk mencari alternatif manufaktur, termasuk Samsung.
BACA JUGA:Teknologi HP 2026 Makin Gila! AI, Kamera, Baterai hingga Chipset Jadi Senjata Utama Smartphone
Chip yang digunakan dalam sistem AI membutuhkan kemampuan komputasi tinggi dan proses manufaktur yang lebih maju.
Karena itu, perusahaan teknologi dan pembuat chip berlomba mendapatkan kapasitas produksi pada node yang lebih canggih.
Samsung sendiri dalam laporan kinerja kuartal II 2026 menyebut bisnis Foundry mengalami pertumbuhan pendapatan yang didukung permintaan HBM dan pesanan pelanggan Amerika Serikat.
Samsung juga menargetkan pertumbuhan pendapatan dua digit pada paruh kedua 2026 seiring meningkatnya permintaan dari Amerika Serikat dan China.
Samsung juga sedang memperluas bisnis pada sektor AI dan HPC, termasuk melalui pengembangan node 2nm serta peningkatan produksi chip 4nm untuk kebutuhan AI/HPC.
BACA JUGA:5 Saham Blue Chip Terbaik Semester II 2026, Cocok untuk Investasi Jangka Panjang
Kenaikan harga manufaktur Samsung berpotensi meningkatkan biaya produksi bagi perusahaan fabless atau perusahaan yang merancang chip tetapi menggunakan perusahaan lain untuk memproduksinya.
Jika biaya produksi wafer meningkat, perusahaan pembuat chip harus menentukan strategi baru.
Mereka dapat menyerap biaya tambahan, melakukan negosiasi ulang dengan pemasok, atau pada kondisi tertentu meneruskan sebagian kenaikan biaya kepada pelanggan.