Bahan ini cukup populer di pasar suplemen global dan mulai dikenal lebih luas oleh konsumen yang mengikuti tren kesehatan berbasis herbal.
Sama seperti bahan herbal lainnya, echinacea sebaiknya tidak dipandang sebagai pengganti vaksinasi, pengobatan, atau pemeriksaan medis. Klaim mengenai peningkatan daya tahan tubuh juga perlu dibedakan antara penggunaan tradisional, hasil penelitian tertentu, dan bukti klinis yang benar-benar kuat.
BACA JUGA:Peluang Karier di Industri Kosmetik & Herbal, Banyak Posisi Dibuka di Bogor 2026
Popularitas Bukan Berarti Terbukti Ampuh
Meningkatnya pencarian atau penjualan suatu bahan herbal tidak dapat dijadikan ukuran bahwa bahan tersebut pasti efektif mengobati penyakit tertentu.
Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum mengonsumsi produk herbal, antara lain:
kandungan dan dosis bahan aktif;
kualitas serta proses produksi;
bukti ilmiah mengenai manfaat yang diklaim;
kondisi kesehatan dan usia pengguna;
kemungkinan alergi atau efek samping;
potensi interaksi dengan obat yang sedang dikonsumsi.
Istilah seperti “alami”, “tradisional”, atau “herbal” juga bukan jaminan bahwa sebuah produk bebas risiko.
Jangan Lupa Cek Izin Edar BPOM
Bagi konsumen yang membeli produk herbal jadi, keamanan produk tidak kalah penting dibandingkan memilih jenis tanamannya.
Sebelum membeli, periksa nomor izin edar BPOM, informasi komposisi, aturan penggunaan, produsen, tanggal kedaluwarsa, dan informasi lain yang tercantum pada kemasan.
Konsumen juga perlu waspada terhadap produk herbal ilegal atau produk yang mengklaim memiliki efek sangat cepat. BPOM telah berulang kali mengingatkan masyarakat mengenai peredaran obat tradisional atau suplemen kesehatan ilegal, termasuk produk yang dapat mengandung bahan kimia obat (BKO) yang tidak semestinya terdapat dalam produk tersebut.
Karena itu, jangan mudah tergiur dengan klaim seperti “sembuh total”, “pasti ampuh”, atau “tanpa efek samping”.