Selama puluhan tahun, produsen Jerman dikenal kuat dalam teknologi mesin pembakaran internal dan kendaraan premium.
Namun, transisi menuju kendaraan listrik mengubah peta kompetisi.
Produsen baru dapat masuk dengan teknologi berbeda. Sementara perusahaan China memiliki ekosistem baterai dan kendaraan listrik yang berkembang pesat.
Artinya, keunggulan masa lalu tidak otomatis menjamin dominasi pada era kendaraan listrik.
BACA JUGA:Biaya Tersembunyi Memiliki Kendaraan: Hitungan Asli per Tahun, Lebih Besar dari yang Diperkirakan
Volkswagen Dipaksa Berubah Lebih Cepat
Peringatan Oliver Blume menunjukkan bahwa Volkswagen harus melakukan perubahan struktural.
Perusahaan perlu menyesuaikan kapasitas produksi dengan permintaan nyata. Pada saat bersamaan, investasi teknologi tetap harus berjalan.
Tantangannya adalah menemukan keseimbangan antara efisiensi, inovasi, harga, dan tenaga kerja.
Jika terlalu lambat melakukan transformasi, Volkswagen berisiko semakin tertinggal dari pesaing.
Namun, jika restrukturisasi dilakukan terlalu agresif, dampaknya terhadap pekerja dan jaringan industri Jerman juga tidak kecil.
Masa Depan Industri Otomotif Jerman Dipertaruhkan
Pernyataan bahwa kondisi ini merupakan pergolakan paling mendalam bagi sektor otomotif Jerman menunjukkan besarnya persoalan.
Volkswagen bukan sekadar produsen mobil.
Perusahaan merupakan salah satu simbol kekuatan industri Jerman.
Karena itu, krisis yang terjadi di Volkswagen menjadi perhatian bagi seluruh ekosistem otomotif Eropa.
Kelebihan kapasitas 500.000 kendaraan per tahun kini menjadi alarm keras bagi Volkswagen.
Perusahaan harus menentukan apakah akan mempertahankan struktur lama dengan risiko biaya tinggi, atau melakukan transformasi besar yang berpotensi mengubah jumlah pabrik dan tenaga kerja.