Terima Kasih Pak Prabowo, Rakyat Katanya Sudah Kaya dan Anak-anak Tak Lagi Kelaparan

Kamis 03 Sep 2026 - 11:40 WIB
Reporter : djarwo
Editor : djarwo

Bacakoran.co – Terima kasih, Pak Prabowo. Hampir dua tahun kepemimpinan berjalan, rakyat Indonesia tampaknya memang harus belajar satu hal baru yaitu: cara menjadi kaya berdasarkan angka statistik.

Maklum, kalau melihat data resmi, kemiskinan turun. Angka-angka ekonomi terlihat lebih cantik. Pemerintah pun punya alasan untuk tersenyum.

Rakyat tentu ikut senang.

Hanya saja, ada satu pertanyaan kecil yang mungkin agak mengganggu suasana pesta: kalau rakyat sudah semakin sejahtera, mengapa begitu banyak orang masih merasa hidupnya semakin mahal?

Tenang.

Mungkin rakyatnya yang belum membaca statistik dengan benar.

BACA JUGA:Desil Salah Bikin Geger, DPR Kasih BPS Waktu 2 Minggu

Kemiskinan Turun, Dompet Kok Masih Tipis?

Badan Pusat Statistik (BPS) memang memiliki metode dan garis kemiskinan sendiri untuk mengukur kondisi masyarakat.

Artinya, ketika seseorang sudah berada sedikit di atas garis tersebut, secara statistik ia bisa saja tidak lagi masuk kategori miskin.

Hebat, bukan?

Kemiskinan bisa berkurang tanpa harus membuat isi dompet mendadak bertambah tebal.

Harga kebutuhan pokok naik? Itu urusan lain.

Biaya sekolah naik? Bisa dibahas nanti.

Harga kontrakan, listrik, transportasi dan kebutuhan rumah tangga terasa berat? Jangan terlalu khawatir.

Yang penting, secara statistik kita sudah lebih sejahtera.

Bahkan perbedaan ukuran kemiskinan antara BPS dan Bank Dunia menunjukkan bahwa angka kemiskinan memang sangat bergantung pada metode, garis kemiskinan dan indikator yang digunakan.

Jadi, kalau angka terlihat bagus tetapi pengalaman masyarakat terasa berbeda, mungkin masalahnya bukan pada rakyat.

Mungkin rakyat terlalu sering melihat harga di pasar, bukan tabel statistik.

BACA JUGA:Desil 9-10 Berpotensi Dilarang Beli BBM Subsidi, Simak Kriteria Pengeluaran Lengkapnya

Terima Kasih Pak, Anak-anak Sudah Kenyang

Lalu ada kabar baik lainnya: program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus digulirkan.

Anak-anak Indonesia mendapatkan makanan di sekolah.

Sebuah program yang tentu layak diapresiasi jika pelaksanaannya benar-benar memenuhi standar gizi, keamanan pangan dan kualitas makanan.

Namun lagi-lagi, ada sedikit catatan yang sepertinya kurang cocok dimasukkan ke dalam pesta keberhasilan.

BACA JUGA:Keracunan MBG Sidoarjo, 273 Santri Bikin Twitter Heboh

Kasus dugaan keracunan makanan terus muncul di berbagai daerah.

Setiap kali ada kejadian, penjelasannya pun kurang lebih sederhana.

Jumlah kasus dibandingkan dengan total penerima manfaat sangat kecil.

Memang benar, secara persentase angka kecil terlihat kecil.

Tetapi bagi anak yang muntah, sakit perut atau harus mendapatkan perawatan, angka 0,000... persen itu bukan angka statistik.

Itu pengalaman nyata.

Dan bagi orang tua, satu anak yang jatuh sakit akibat makanan yang seharusnya menyehatkan tetap merupakan persoalan serius.

BACA JUGA:Kronologi Lengkap Keracunan Massal MBG di Sidoarjo: 431 Santri Dirawat, Tidak Ada Korban Jiwa

Kalau Persentasenya Kecil, Apakah Masalahnya Ikut Kecil?

Ini logika yang menarik.

Misalnya satu juta anak menerima makanan setiap hari.

Kemudian hanya sebagian kecil yang mengalami masalah kesehatan.

Secara persentase, tentu terlihat sangat kecil.

Tetapi negara tidak sedang mengelola spreadsheet.

Negara sedang mengelola manusia.

Karena itu, keberhasilan MBG seharusnya tidak hanya diukur dari berapa juta porsi makanan yang berhasil dibagikan.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

  • Apakah makanannya memenuhi standar gizi?
  • Apakah dapurnya memenuhi standar keamanan pangan?
  • Apakah rantai distribusinya aman?
  • Apakah bahan bakunya terjaga?
  • Apakah pengawasan dilakukan secara ketat?
  • Dan yang paling penting, berapa banyak anak yang benar-benar mendapatkan manfaat tanpa menjadi korban kelalaian?

Kalau semua jawabannya baik, silakan pemerintah membanggakan program tersebut.

Tetapi kalau masalah keamanan pangan terus berulang, kritik bukan berarti membenci program.

Kritik justru diperlukan agar program sebesar ini tidak berubah menjadi proyek mengejar angka.

BACA JUGA:Heboh Susu Frisian Flag MBG Bertuliskan Expired 27 Maret 2021, Netizen: Jangan Buru-buru Viral...

Rakyat Tidak Hidup dari Persentase

  • Inilah bagian yang sering terlupakan.
  • Pemerintah bekerja dengan angka.
  • BPS bekerja dengan angka.
  • Ekonom bekerja dengan angka.
  • Tetapi rakyat hidup dengan harga.
  • Harga beras.
  • Harga telur.
  • Harga minyak goreng.
  • Harga sewa rumah.
  • Harga listrik.
  • Biaya sekolah.
  • Biaya transportasi.

Dan tentu saja, harga kehidupan sehari-hari yang tidak pernah mengenal istilah margin of error.

Karena itu, keberhasilan pemerintah seharusnya tidak berhenti pada kalimat "angka kemiskinan turun."

Rakyat ingin tahu apakah hidup mereka benar-benar lebih mudah.

Apakah pendapatan meningkat lebih cepat daripada biaya hidup?

Apakah pekerjaan yang tersedia memberikan penghasilan layak?

Apakah anak-anak mendapatkan makanan bergizi tanpa risiko kesehatan?

Apakah keluarga kelas bawah memiliki ruang lebih besar untuk menabung dan menghadapi keadaan darurat?

Itulah pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar angka yang terlihat indah di atas kertas.

Terima Kasih Pak Prabowo, Tapi Rakyat Tetap Boleh Bertanya

Jadi, sekali lagi, terima kasih Pak Prabowo.

Terima kasih karena angka kemiskinan disebut menurun.

Terima kasih karena MBG dibagikan kepada jutaan anak.

Terima kasih karena pemerintah terus bekerja.

Tetapi izinkan rakyat melakukan sesuatu yang mungkin sedikit tidak sopan:

dengan bertanya.

Sebab dalam demokrasi, rakyat bukan penonton yang tugasnya hanya bertepuk tangan setiap kali pemerintah menunjukkan grafik.

Kalau rakyat memang semakin kaya, biarkan mereka merasakannya.

Kalau anak-anak memang semakin sehat, biarkan datanya yang membuktikannya.

Dan kalau program pemerintah memang berhasil, biarkan keberhasilannya terlihat nyata bukan hanya dari angka penerima manfaat, tetapi juga dari kualitas hidup masyarakat yang benar-benar membaik.

Sebab pada akhirnya, rakyat tidak makan statistik.

Rakyat makan nasi.

Dan nasi, sayangnya, belum bisa dibayar menggunakan angka keberhasilan pemerintah.

Kategori :