BACAKORAN.CO - China tengah mengembangkan teknologi free-space volumetric display yang memungkinkan gambar 3D terlihat melayang di ruang tanpa layar datar. Teknologi ini memanfaatkan laser dan partikel mikroskopis untuk membentuk titik cahaya dalam ruang tiga dimensi.
Jika berhasil dikembangkan hingga skala konsumen, teknologi tersebut berpotensi mengubah cara manusia menikmati televisi, video call, desain, hingga visualisasi medis.
Namun, ada satu hal penting yang perlu digarisbawahi.
Hologram 3D tanpa layar belum siap menggantikan televisi di rumah.
Teknologi ini masih menghadapi berbagai persoalan. Mulai dari ukuran perangkat, kebutuhan energi, kecepatan pemrosesan, kualitas gambar, hingga keamanan laser.
Apa Itu Free-Space Volumetric Display?
Volumetric display merupakan teknologi yang menghasilkan visual dalam volume ruang tertentu.
Konsepnya berbeda dari televisi LCD atau OLED. Layar konvensional menampilkan gambar pada permukaan dua dimensi.
Sementara itu, sistem volumetrik berusaha membentuk titik visual pada posisi berbeda di dalam ruang.
Titik tersebut dapat dianggap sebagai elemen gambar tiga dimensi. Dalam beberapa konsep, istilah voxel digunakan untuk menggambarkan elemen volume tersebut.
Hasil akhirnya adalah objek yang dapat terlihat dari berbagai sudut.
Pengguna juga tidak membutuhkan headset VR untuk melihatnya.
Bagaimana Cara Kerja Hologram 3D Tanpa Layar?
Salah satu pendekatan yang menarik menggunakan laser dengan presisi sangat tinggi.
Laser dapat digunakan untuk memanipulasi partikel mikroskopis. Teknik seperti optical trapping memungkinkan partikel dikendalikan menggunakan gaya dari cahaya.
Partikel tersebut kemudian diposisikan sangat cepat.