bacakoran.co

Pasien Ginjal Saling Pinjam Obat? Ini Fakta Mencengangkan di Balik Kelangkaan Obat BPJS!

pasien gagal ginjal yang sudah melakukan transplantasi hadapi kelangkaan obat, banyak pasien tetap mengalami kesulitan mendapatkan obat-obatan penting.--

Namun, Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes, L. Rizka Andalusia, membantah hal tersebut.

Ia menegaskan bahwa efisiensi anggaran bukan berarti mengorbankan kualitas layanan.

BACA JUGA:Info Mudik, Aturan Pembatasan Angkutan Barang Mudik Lebaran Berlaku 24 Maret 2025, Cek Jadwal dan Lokasinya!

BACA JUGA:Fakta Terkait Puluhan Napi Kabur dari Lapas Kutacane Aceh, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Ungkap Ini

Bahkan, pemerintah justru akan memperbanyak program transplantasi karena dianggap lebih hemat dibanding cuci darah.

“Memang tahun lalu kebutuhan tacrolimus melonjak 260% dibanding proyeksi. Tapi sekarang udah diatasi. Ada beberapa merek yang sudah punya izin edar dari BPOM, seperti Prograf dan Tacsograf,” jelas Rizka.

Lewat platform FORNAS (Formularium Nasional), pemerintah memasukkan sejumlah obat immunosupresan penting seperti azatioprin, basiliksimab, mikofenolat, siklosporin, dan tentunya tacrolimus.

Jadi, meskipun ada kendala, pemerintah tetap upayakan agar pasien tetap bisa mengakses obat secara optimal.

BACA JUGA:Siap-siap! Sekolah Rakyat untuk Anak-anak dari Keluarga Miskin Segera Beroperasi, Mensos: Buka Rekrutmen Guru

BACA JUGA:Ifan Seventeen Ditunjuk Jadi Dirut PT Produksi Film Negara, Ini Profil dan Tugas Barunya

Sementara itu, Kepala BPJS Kesehatan Ali Ghufron menambahkan bahwa penggantian obat dilakukan lewat metode health technology assessment.

Tujuannya? Biar tetap aman, efektif, dan terjangkau bagi peserta JKN.

Harapannya, ke depan nggak ada lagi cerita soal pasien saling pinjam obat karena stok kosong.

Yuk, dukung pelayanan kesehatan yang lebih merata dan manusiawi!

Pasien Ginjal Saling Pinjam Obat? Ini Fakta Mencengangkan di Balik Kelangkaan Obat BPJS!

Melly

Melly


bacakoranco - di balik perjuangan panjang pasien yang sudah melakukan transplantasi, ternyata masih ada tantangan berat yang harus mereka hadapi kelangkaan obat!

yap, bukan cuma sakit yang bikin pusing, tapi juga harus keliling cari obat yang kadang nggak tersedia di fasilitas .

ketua komunitas pasien cuci darah indonesia (kpcdi), tony samosir curhat dalam sebuah diskusi publik di jakarta pada 11 maret 2025.

ia menyebutkan, meski bilang stok obat udah ditangani, kenyataannya banyak pasien tetap mengalami kesulitan mendapatkan obat-obatan penting.

padahal, obat ini vital banget buat menjaga stabilitas tubuh pasien pascaoperasi

“sering banget pasien hubungi saya, nanya obat ada atau enggak. di semarang misalnya, udah kosong. jadi saya kirim dari tempat saya, tapi dengan catatan nanti dikembalikan kalau udah dapat lagi, karena saya juga butuh,” ujar tony.

bahkan, tony juga menyinggung pergantian jenis obat yang ditanggung bpjs, dari tacrolimus originator (asli) ke non-originator (generik).

dari hasil survei internal kpcdi terhadap 23 pasien, ditemukan bahwa 39% mengalami kenaikan kadar kreatinin, dan 13% di antaranya bahkan melampaui batas normal setelah konsumsi tacrolimus generik.

nggak cuma itu, 52% pasien juga ngalamin efek samping. waduh!

tony pun mempertanyakan, jangan-jangan ini karena alasan efisiensi anggaran?

namun, direktur jenderal farmasi dan alat kesehatan kemenkes, l. rizka andalusia, membantah hal tersebut.

ia menegaskan bahwa efisiensi anggaran bukan berarti mengorbankan kualitas layanan.

bahkan, pemerintah justru akan memperbanyak program transplantasi karena dianggap lebih hemat dibanding cuci darah.

“memang tahun lalu kebutuhan tacrolimus melonjak 260% dibanding proyeksi. tapi sekarang udah diatasi. ada beberapa merek yang sudah punya izin edar dari bpom, seperti prograf dan tacsograf,” jelas rizka.

lewat platform fornas (formularium nasional), pemerintah memasukkan sejumlah obat immunosupresan penting seperti azatioprin, basiliksimab, mikofenolat, siklosporin, dan tentunya tacrolimus.

jadi, meskipun ada kendala, pemerintah tetap upayakan agar pasien tetap bisa mengakses obat secara optimal.

sementara itu, kepala bpjs kesehatan ali ghufron menambahkan bahwa penggantian obat dilakukan lewat metode health technology assessment.

tujuannya? biar tetap aman, efektif, dan terjangkau bagi peserta jkn.

harapannya, ke depan nggak ada lagi cerita soal pasien saling pinjam obat karena stok kosong.

yuk, dukung pelayanan kesehatan yang lebih merata dan manusiawi!

Tag
Share