Viral! Aksi Protes Massal Orang Tua Murid di Cikarang Gegara Anak Gagal Masuk Sekolah Favorit
Aksi protes massal orang tua murid di Cikarang viral! Mereka kecewa anaknya gagal masuk SMAN 3 Cikarang Utara meski tinggal dekat sekolah. Apa penyebabnya?--Youtube-tvOneNews
Mayoritas siswa yang diterima berasal dari Desa Waluya, namun masih ada 89 anak yang belum terakomodir.
BACA JUGA:Viral! Siswa Belajar di Sekolah Berlantai Tanah di Wajo Sulsel, Di Mana Pemerintah?
BACA JUGA:Tips Jitu Agar Orang Tua Tidak Bingung Saat Mendaftar Sekolah Secara Online
Tuntutan dan Ancaman Warga
Beberapa orang tua bahkan mengancam akan menggembok gerbang sekolah jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.
Mereka mendesak agar anak-anak mereka diterima tanpa harus melalui jalur prestasi yang dianggap lebih sulit dan tidak semua anak memiliki keunggulan akademik atau non-akademik.
Solusi dari Pihak Sekolah dan Pemerintah
BACA JUGA:Tragis! Siswa SMP 3 Pasuruan Tewas Tersetrum Saat Acara Sekolah, Ini Faktanya
Pihak sekolah dan pemerintah setempat telah menggelar musyawarah bersama warga, kepala desa, dan camat.
Hasilnya, anak-anak yang belum diterima diarahkan untuk mengikuti tahap kedua seleksi melalui jalur prestasi yang dibuka mulai 24 Juni hingga 1 Juli 2025
Mengapa Ini Viral?
Video aksi protes ini menyebar luas di media sosial dan YouTube, memicu diskusi publik tentang keadilan sistem zonasi dan keterbatasan daya tampung sekolah negeri.
BACA JUGA:Viral Video Siswa SD Nangis Gegara Tidak Lulus Sekolah, Netizen Marah: Harusnya Privasi!
BACA JUGA:Gubernur Lampung Haramkan Komite Sekolah Pungut Iuran ke Wali Siswa, Sumsel Kapan?
Banyak netizen menyuarakan empati terhadap para orang tua yang merasa sistem ini tidak berpihak pada masyarakat sekitar.
Aksi protes massal orang tua murid di SMAN 3 Cikarang Utara menjadi cerminan keresahan masyarakat terhadap sistem seleksi Penerimaan Murid Baru (PMB) yang dianggap belum sepenuhnya adil dan transparan.
Dengan kuota jalur domisili yang terbatas hanya 35 persen dari total daya tampung, banyak anak yang tinggal dekat sekolah justru tidak lolos seleksi, memicu gelombang kekecewaan dan aksi unjuk rasa.