Penjaringan Terendam Lagi! Banjir Rob Capai 85 cm, Aktivitas Warga Lumpuh
Banjir rob kembali merendam wilayah Penjaringan, Jakarta Utara, dengan ketinggian mencapai 85 cm. Saksikan kondisi terkini di lapangan yang menyebabkan aktivitas warga lumpuh total. --Youtube-KOMPASTV
“Banyak anggota kami terpaksa menginap karena tidak bisa keluar dari pelabuhan,” ungkap Andy Irham dari Unit Penyelenggara Pelabuhan Kali Adem.
Banjir Rob Tak Lagi Bisa Diprediksi
Menurut warga setempat, banjir rob kini datang tanpa peringatan.
Jika dulu hanya terjadi saat bulan purnama, kini air laut bisa naik kapan saja.
“Dulu bisa diprediksi, sekarang enggak.
Tiba-tiba aja air masuk,” ujar Hasanudin, Ketua RT 4 RW 22.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Banjir rob ini berdampak besar pada ekonomi warga.
Banyak usaha kecil terpaksa tutup, dan warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk kebutuhan dasar.
Air sumur menjadi tidak layak pakai, memaksa warga membeli air bersih.
“Satu pikulan air Rp5.000, sehari bisa habis Rp30.000,” kata Pujianti, warga Muara Angke.
Upaya Penanggulangan Masih Terbatas
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengerahkan personel BPBD, Dinas SDA, dan Gulkarmat untuk menyedot genangan dan memastikan saluran air berfungsi.
Namun, warga menilai upaya ini belum cukup. Pembangunan tanggul laut NCICD masih dalam tahap awal, dan warga hanya bisa berharap proyek ini segera rampung.
Harapan Warga: Tanggul yang Nyata, Bukan Janji
Warga seperti Teni dan Hasanudin sudah terlalu sering berurusan dengan air laut yang datang tanpa permisi.
Mereka kini menggantungkan harapan pada pembangunan tanggul yang benar-benar bisa melindungi kawasan mereka.
“Kami cuma ingin satu: air laut jangan lagi masuk ke rumah kami,” ujar Teni dengan nada lelah.
Tips Menghadapi Banjir Rob
1. Unduh aplikasi prediksi pasang surut seperti “Tides” untuk memantau potensi rob.