Keracunan Massal MBG di Banggai: 251 Siswa Dilarikan ke RSUD Salakan Usai Konsumsi Ikan Cakalang
Keracunan Massal MBG di Banggai: 251 Siswa Dilarikan ke RSUD Salakan Usai Konsumsi Ikan Cakalang--Kompas Regional
Dari total 251 siswa yang terdampak, sebanyak 173 orang telah diizinkan pulang setelah menjalani perawatan intensif dan menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Namun, masih terdapat 78 siswa yang harus menjalani observasi lanjutan dan perawatan medis di RSUD Salakan.
BACA JUGA:Beraksi di Siang Hari Pencuri Dikejar Massa Hingga Terjun Ke Sungai, Tertangkap Langsung Dihajar
BACA JUGA:Pernah Ajukan Undur Diri, Kini Hasan Nasbi Resmi Dicopot Oleh Presiden Prabowo dari Kepala CPO!
Situasi ini membuat rumah sakit kewalahan, karena jumlah pasien yang datang terus bertambah seiring waktu.
“Saat ini siswa-siswi yang terdampak keracunan terus berdatangan untuk memperoleh penanganan medis di RSUD Salakan,” tulis pernyataan resmi di situs Pemda Banggai Kepulauan.
Sebagai respons cepat terhadap lonjakan jumlah pasien, pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan terkait segera mendirikan sejumlah tenda darurat di area depan RSUD.
Tenda-tenda ini difungsikan sebagai ruang tambahan untuk perawatan dan observasi para siswa yang belum mendapatkan tempat di ruang perawatan utama.
BACA JUGA:Heboh Copot Kepsek SMP 1, Wako Prabumulih Arlan Dipanggil Kemendagri, Diperiksa Hari Ini!
Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa seluruh korban mendapatkan penanganan medis yang layak dan tidak terlantar akibat keterbatasan fasilitas rumah sakit.
“Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan dan stakeholder terkait telah membangun tenda darurat di depan RSUD untuk tempat perawatan dan observasi siswa-siswi yang terdampak. Pihak kesehatan memberikan penanganan pertama dan observasi selama 1 x 24 jam di RSUD Salakan,” lanjut pernyataan tersebut.
Insiden ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai kualitas dan keamanan makanan yang disediakan dalam program MBG.
Masyarakat mulai menuntut transparansi dan akuntabilitas dari pihak penyelenggara, serta meminta evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi dan pengawasan bahan pangan yang digunakan dalam program tersebut.