Heboh Kasus Cacingan Akut di Bengkulu, Ketua IDAI Ingatkan Pentingnya Pencegahan Sejak Dini
Kasus bocah cacingan akut di bengkulu, idai ingatkan pentingnya pencegahan--
BACAKORAN.CO - Kasus cacingan akut yang menimpa seorang bocah bernama Khaira di Bengkulu membuat publik heboh.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Piprim Basarah Yanuarso, mengingatkan pentingnya fokus pada pencegahan dan promosi kesehatan di hulu, bukan hanya mempercantik layanan kesehatan di hilir.
Menurut dr. Piprim, banyak pihak masih terjebak dalam pola pikir "hilirisasi kesehatan" yang terlalu menitikberatkan pada pembangunan fasilitas mewah rumah sakit atau pengobatan setelah anak jatuh sakit.
Padahal, langkah terbaik adalah memperkuat kesehatan primer di tingkat masyarakat.
BACA JUGA:Kasus Anak Cacingan di Kabupaten Seluma Bengkulu jadi Perhatian Menteri PPPA
BACA JUGA:Bikin Merinding! Bocah 1,8 Tahun di Bengkulu Muntah Cacing, Dokter Temukan Larva di Paru!
“Jangan terjebak ke hilirisasi kesehatan. Hulunya justru yang paling penting, seperti penguatan posyandu, kader kesehatan, dan puskesmas. Kalau dari awal dicegah, kasus cacingan akut sampai parah seperti ini bisa dihindari,” tegasnya dilansir, Minggu (21/9/2025).
Data dari Dinas Kesehatan Bengkulu menunjukkan, meski sudah ada program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Cacingan, infeksi cacing masih menjadi masalah serius bagi anak-anak.
Dr. Piprim menekankan bahwa investasi terbesar dalam kesehatan adalah di pencegahan.
Misalnya dengan memastikan anak mendapat obat cacing setiap enam bulan, vitamin A secara rutin, serta pemantauan tumbuh kembang balita di posyandu.
BACA JUGA:Viral! Kasus Balita Meninggal Dunia Dengan Tubuh Dipenuhi Cacing Jadi Tamparan Bagi Pemerintah
BACA JUGA:Viral! Oknum TNI Aniaya Ojol di Pontianak hingga Patah Hidung, Kasus Berlanjut ke Peradilan Militer
“Kalau semua anak terdata dengan baik dan tidak ada yang tertinggal, kasus cacingan parah bisa dicegah sejak dini,” tambahnya.
Menurut IDAI, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Perlu sinergi dengan kader posyandu, ibu-ibu PKK, perangkat desa, hingga orang tua untuk menciptakan lingkungan sehat bagi anak.