bacakoran.co — banyak orang tanpa sadar menjadikan sebagai pelarian saat emosi sedang tidak stabil.
ketika hati sedang gelisah atau pikiran terasa berat, makanan seperti nasi, mie, roti, gorengan, hingga kerap menjadi pilihan untuk menenangkan diri.
namun, menurut dr zaidul akbar, kebiasaan ini bukanlah sekadar soal rasa lapar.
dalam sebuah video yang ia unggah, dr zaidul akbar mengungkapkan bahwa dorongan untuk makan berlebihan saat emosi terganggu sebenarnya merupakan sinyal dari tubuh yang sedang mengalami tekanan psikologis.
“setiap perubahan keadaan emosi seseorang itu pasti akan ada sesuatu yang dia rasakan, dan itu sangat berkaitan dengan makanan yang dia konsumsi,” ujar dr zaidul akbar.
karbohidrat yang jadi pelampiasan
lebih lanjut, dr zaidul menjelaskan bahwa kecenderungan untuk mengonsumsi makanan berkarbohidrat tinggi saat stres bukanlah hal yang kebetulan.
karbohidrat, menurutnya, merupakan sumber energi cepat yang secara instan memberikan rasa nyaman dan tenaga.
“sebenarnya tubuhnya sedang stres. karena karbohidrat adalah fast instant energy yang sangat baik untuk memberikan tenaga,” katanya.
namun, ia mengingatkan bahwa jika kebiasaan ini terus berulang, bisa jadi itu adalah bentuk pelarian dari masalah yang belum terselesaikan.
“kalau terus-menerus berarti dia sedang menghindar atau sedang berlari dari keadaan yang memerlukan tenaga besar,” tambahnya.
pola makan berubah saat emosi tertata
menurut dr zaidul, seseorang yang berani menghadapi dan mengelola emosinya dengan baik akan menunjukkan perubahan dalam pola makan.
ia menekankan bahwa proses penyembuhan emosional akan tercermin dalam pilihan makanan yang lebih sehat dan terkontrol.
“kalau dia mau melawan atau bangkit, dia belajar menata emosi, maka karakter makanannya pun akan berubah,” jelasnya.
hubungan lambung dan emosi
dalam penjelasannya, dr zaidul juga menyoroti keterkaitan antara kondisi lambung dan keadaan emosional seseorang.
ia menyebut bahwa organ pencernaan, khususnya lambung, sangat sensitif terhadap stres dan tekanan batin.
“itu sebabnya lambung itu akan sangat berhubungan dengan keadaan emosional seseorang,” ujarnya.
jika seseorang terus-menerus berada dalam kondisi stres dan tidak berani menghadapi akar masalahnya, maka tubuh pun akan mengalami dampaknya secara fisik.
“tubuh akan terus-menerus berada pada kondisi stres, dan akhirnya yang jadi korban adalah perlambungan,” tambahnya.
pilih hadapi atau hindari?
melalui akun instagram-nya, dr zaidul membagikan konsep klasik dalam menghadapi stres, yaitu “fight or flight”.
ia menjelaskan bahwa setiap orang memiliki dua pilihan saat emosi sedang tidak stabil.
“kalo lagi nggak enak hati atau emosinya nggak bagus, kita punya dua pilihan: fight atau flight,” tulisnya.
fight berarti berani menghadapi dan mengendalikan emosi negatif, sedangkan flight berarti memilih untuk menghindar, yang sering kali berujung pada pelampiasan lewat makanan.
“pilihannya ada di kita, mau diri kita yang mengendalikan emosi, atau emosi yang mengendalikan diri kita,” tegasnya.
jika seseorang membiarkan emosinya mengambil alih, maka masalah tidak akan terselesaikan, dan tubuh pun akan terus berada dalam kondisi tertekan.
sebagai penutup, dr zaidul mengingatkan bahwa banyak ketakutan yang dirasakan manusia sebenarnya hanyalah ilusi pikiran.
ia mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi rasa takut dan tidak membiarkannya menguasai diri.
“banyak sekali ketakutan yang dirasakan seseorang itu justru malah seringkali tidak terbukti, dan hanya sekadar ketakutan saja,” ujarnya.
menurutnya, rasa takut yang sejati seharusnya hanya ditujukan kepada allah dan kehidupan akhirat.