Izin Tambang di Lereng Gunung Slamet Disorot, Gubernur Luthfi Beri Penjelasan Tegas
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dalam acara Solo Investment Forum di Swiss-Belinn Saripetojo, Solo, Jumat (12/12/2025).--Kompas.com
Ia menegaskan bahwa pengajuan telah dilakukan sejak beberapa waktu lalu dan masih dalam proses penelaahan di tingkat pemerintah pusat.
Sambil menunggu keputusan tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyusun pemetaan kawasan dan peta jalan pengawasan jangka panjang guna memastikan pengelolaan kawasan tetap sesuai prinsip keberlanjutan.
Di sisi lain, penolakan masyarakat terhadap keberadaan tambang di kaki Gunung Slamet semakin menguat.
Warga Desa Baseh, Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas, menyampaikan bahwa aktivitas penambangan batu granit yang berlangsung selama kurang lebih empat tahun telah menimbulkan dampak ekologis dan sosial yang signifikan.
Dalam aksi demonstrasi di depan gedung DPRD Banyumas pada Selasa (9/12/2025), warga menyampaikan keluhan mengenai rusaknya lahan pertanian serta menurunnya produktivitas pangan.
Perwakilan warga yang tergabung dalam Musyawarah Masyarakat Baseh (Murba), Budi Tartanto, menyatakan bahwa sekitar 24 hektar lahan pertanian terdampak material tambang dan 19 kolam ikan milik pemuda desa rusak berat.
Selain kerusakan lahan, warga juga menyampaikan kecemasan terhadap potensi longsor yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Menurut Budi, setiap hujan deras, warga khawatir material tanah dari lokasi tambang mengalir ke jalan desa dan permukiman.
Ia menegaskan bahwa tidak terdapat jaminan keselamatan bagi warga apabila tambang tetap beroperasi.
Polemik semakin mengemuka setelah sebuah foto udara yang memperlihatkan titik gundul di lereng Gunung Slamet beredar luas di media sosial dan menimbulkan dugaan aktivitas tambang tanpa izin.
BACA JUGA:Kebakaran Hebat Terra Drone Tewaskan 22 Korban, Owner Terancam Penjara Seumur Hidup!
BACA JUGA:Brutal! Ini Kronologi Dua Debt Collector Dikeroyok di Kalibata: Satu Tewas di Lokasi
Namun Kepala Cabang Dinas ESDM Wilayah Slamet Selatan, Mahendra Dwi Atmoko, menjelaskan bahwa foto tersebut merupakan dokumentasi lama dari Google Earth pada tahun 2018, yang memperlihatkan pembukaan jalan untuk proyek panas bumi.