Operasi SAR Kecelakaan Pesawat ATR 24-500 di Sulawesi Selatan: 9 Body Part Ditemukan dan 6 Korban Dievakuasi!
Operasi SAR Kecelakaan Pesawat ATR 24-500 di Sulawesi Selatan: 9 Body Part Ditemukan, 6 Korban Dievakuasi --detikNew - detikcom
BACAKORAN.CO - Operasi Pencarian dan Pertolongan (SAR) terkait kecelakaan pesawat ATR 24-500 yang jatuh di wilayah Sulawesi Selatan masih terus berlangsung hingga Kamis, 22 Januari 2026.
Tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, serta sejumlah relawan lokal bekerja tanpa henti di lokasi kejadian untuk menemukan korban maupun bagian pesawat yang hancur akibat insiden tragis tersebut.
Hingga hari ini, tim SAR telah berhasil menemukan sejumlah temuan penting berupa jenazah dalam kondisi tidak utuh, yang kemudian dikategorikan sebagai sembilan pack body part.
Temuan ini menjadi bukti betapa kerasnya benturan yang dialami pesawat saat kecelakaan terjadi.
BACA JUGA:Kemenhaj Pastikan Fast Track Haji 2026, Jemaah Tak Lagi Antre di Saudi
BACA JUGA:Banjir Kepung Kota Bekasi, Hujan Deras Rendam Pasar Family Harapan Indah hingga 50 Cm
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, memberikan penjelasan kepada awak media mengenai istilah body part yang digunakan dalam laporan lapangan.
Menurutnya, istilah tersebut tidak semata-mata merujuk pada bagian tubuh korban, melainkan juga mencakup serpihan pesawat yang ditemukan berserakan di area pencarian.
“Perlu kami tegaskan bahwa body part dalam konteks operasi ini bisa berarti bagian tubuh korban maupun bagian dari pesawat. Hingga saat ini, total yang berhasil ditemukan adalah sembilan pack body part. Selain itu, terdapat enam korban yang masih dalam proses evakuasi oleh tim SAR gabungan,” ujarnya.
Syafii menekankan bahwa seluruh proses pencarian dan evakuasi dilakukan dengan penuh kehati-hatian serta perhitungan matang.
BACA JUGA:Kafe Remang-Remang di Tengah Kebun Karet Digerebek, 33 Pengunjung Positif Narkoba
Hal ini dikarenakan medan operasi yang cukup sulit, berupa area perbukitan terjal dan hutan lebat, ditambah kondisi cuaca yang sering berubah secara tiba-tiba.
Hujan deras, kabut tebal, dan angin kencang menjadi tantangan tersendiri bagi para personel di lapangan.