Heboh! Sekolah Elit di Banyuwangi Tolak Program Makan Bergizi Gratis, Alasannya Bikin Geleng Kepala
Sekolah Elit di Banyuwangi Tolak Program Makan Bergizi Gratis, Alasannya Bikin Geleng Kepala--Radar Banyuwangi - Jawa Pos
BACAKORAN.CO - Program penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah sebagai salah satu upaya meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia ternyata tidak selalu diterima dengan tangan terbuka.
Di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, sejumlah sekolah, terutama sekolah-sekolah elit dengan jumlah siswa mencapai ribuan, dilaporkan menolak untuk menerima program tersebut.
Informasi ini disampaikan oleh beberapa Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kepada Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang, dalam sebuah forum koordinasi dan evaluasi yang melibatkan Forkompimda, Kasatpel, Yayasan, Mitra, Korwil, serta seluruh Kepala SPPG di wilayah tersebut.
Menanggapi laporan tersebut, Nanik menegaskan bahwa tidak boleh ada unsur pemaksaan terhadap sekolah mana pun untuk menerima penyaluran MBG.
BACA JUGA:Viral Sajikan Telur dan Jagung Mentah di Menu MBG, SPPG Lebak Banten Minta Maaf
BACA JUGA:Kapal dengan Penumpang 59 Orang Tenggelam di Halmahera Selatan, 1 Orang Meninggal dan 1 Masih Hilang
Ia meminta seluruh jajaran SPPG agar menghormati keputusan masing-masing sekolah.
Menurutnya, program ini memang dirancang untuk memberikan manfaat berupa makanan bergizi kepada anak-anak Indonesia, tetapi sifat penerimaannya tetap sukarela.
Artinya, sekolah memiliki hak penuh untuk menentukan apakah mereka ingin ikut serta atau tidak dalam program tersebut.
Dalam keterangannya, Nanik menjelaskan bahwa pemerintah memiliki niat baik untuk memastikan tidak ada satu pun anak Indonesia yang kekurangan gizi.
BACA JUGA:Tragis! Pohon Tumbang di Jalan Lembah UGM Sleman Tewaskan Kakek dan Cucu
BACA JUGA:Heboh, KBRI Digeruduk Ribuan WNI Kabur dari Tempat Online Scam di Kamboja!
Program MBG diharapkan menjadi solusi agar anak-anak, terutama dari keluarga kurang mampu, bisa mendapatkan asupan makanan sehat dan bergizi secara gratis.
Namun, ia juga menyadari bahwa ada sekolah-sekolah tertentu yang siswanya berasal dari keluarga mampu, sehingga pihak sekolah merasa tidak perlu menerima bantuan tersebut.