Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000! Harga Tahu, Tempe hingga Daging Terancam Naik, Ini Dampaknya
Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000! Harga Tahu, Tempe hingga Daging Terancam Naik, Ini Dampaknya.gbr.kabasumbar--
BACAKORAN.CO – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tekanan pada perdagangan hari ini, Rabu, 24 Juni 2026. Mata uang Garuda terpantau bergerak di kisaran Rp17.859 hingga Rp17.922 per dolar AS, semakin mendekati level psikologis Rp18.000 yang selama ini menjadi perhatian pelaku pasar dan masyarakat.
Pelemahan kurs rupiah dipicu oleh kombinasi sejumlah faktor global dan domestik. Tingginya suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), ketidakpastian ekonomi dunia, serta menyusutnya surplus perdagangan Indonesia menjadi sentimen utama yang membebani pergerakan rupiah dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada sektor keuangan, tetapi juga berpotensi memengaruhi harga kebutuhan pokok yang dikonsumsi masyarakat setiap hari.
BACA JUGA:Dolar AS Cetak Rekor Tertinggi Setahun, Rupiah Tertekan! Ini Faktor yang Menggerakkan Pasar Global
Rupiah Melemah Hari Ini, Kenapa Harga Bahan Pokok Bisa Ikut Naik?
Pelemahan nilai tukar rupiah memiliki efek langsung terhadap biaya impor berbagai komoditas dan bahan baku industri. Ketika dolar AS menguat, pelaku usaha harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli barang dari luar negeri.
Akibatnya, kenaikan biaya tersebut sering kali diteruskan ke konsumen dalam bentuk harga jual yang lebih tinggi. Dampaknya dapat dirasakan mulai dari pasar tradisional hingga pusat perbelanjaan modern.
Selain itu, sektor produksi dalam negeri yang masih bergantung pada bahan baku impor juga ikut terkena tekanan biaya sehingga berpotensi mendorong inflasi pangan.
BACA JUGA:Rupiah Masih Tertekan! USD Menguat Dua Hari Beruntun, BI Naikkan Suku Bunga Demi Selamatkan Pasar
Harga Tahu dan Tempe Terancam Naik Akibat Kedelai Impor
Salah satu komoditas yang paling sensitif terhadap pelemahan rupiah adalah kedelai. Saat ini sekitar 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih berasal dari impor.
Ketika kurs rupiah melemah terhadap dolar AS, harga kedelai impor otomatis menjadi lebih mahal. Kondisi tersebut membuat produsen tahu dan tempe menghadapi kenaikan biaya produksi.
Tidak sedikit pelaku usaha yang akhirnya menaikkan harga jual produk atau mengurangi ukuran tahu dan tempe demi menjaga keberlangsungan usaha mereka.
BACA JUGA:Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS! Harapan Damai AS-Iran Guncang Pasar Global