bacakoran.co

Raffi Ahmad Digoyang Badai Kritik Jabatan Titipan, Unfollow Massal hingga 1 Juta Akun dan 1 Lot Tolak IPO RANS

Kontroversi Nepotisme Raffi Ahmad Meledak Followers Instagram Anjlok, Publik Tolak IPO RANS--Twitter

BACAKORAN.CO – Fenomena unfollow massal dan seruan cancel culture menerpa Raffi Ahmad.

Hal ini terjadi di tengah kritik publik atas dugaan penempatan keluarga dan kerabat dekat ke jabatan publik serta komisaris BUMN meski latar belakang pendidikan relatif rendah. 

Kontroversi ini memicu reaksi luas di media sosial, terutama saat perusahaan miliknya, RANS, tengah mempersiapkan IPO.

Publik menyoroti ketidakadilan akses kerja bagi lulusan sarjana yang kesulitan mendapat kesempatan serupa. 

BACA JUGA:Terekam CCTV, Taufik Hidayat Cari Dedi Mulyadi Sebelum Diciduk Polisi, Ini Pengakuannya

Menurut data yang beredar luas di X (Twitter), akun Instagram @raffinagita1717 milik Raffi Ahmad dan Nagita Slavina disebut mengalami penurunan followers.

Dari 75,2 juta menjadi 75,1 juta, atau turun sekitar 100 ribu hingga diklaim 1 juta akun dalam waktu singkat.

Gambar perbandingan screenshot tersebut pertama kali viral melalui akun @bangherwin pada Senin, 29 Juni 2026, dengan 87.668 tayang per Selasa pagi. 

Uya Kuya melalui akun @king_uyakuya turut menyoroti isu ini.

BACA JUGA:Setelah 5 Peserta Meninggal, Kemhan Ubah Latsarmil SPPI Jadi Latihan Bela Negara

“Guys ayo makin gencar kita bersik dan cancel culture nyal. Terpantau follower turun sejak kemarin 75.2M ke 75.1M. Meskipun cuma 1 juta tapi ga ada yg mustahil," tulis Uya Kuya di thread @king_uyakuya.

Ia menekankan hak pekerjaan rakyat kecil yang dirampas elit.

“pasukan 1 lot memutuskan tidak ikut IPO $RANS," tulis @LambeSahamjja.

Gambar pendukung menampilkan seruan boikot Raffi Ahmad sebagai buzzer terbesar beserta kritik keluarga yang banyak menduduki jabatan pejabat meski lulusan SMA. 

Raffi Ahmad Digoyang Badai Kritik Jabatan Titipan, Unfollow Massal hingga 1 Juta Akun dan 1 Lot Tolak IPO RANS

Joko

Tri


bacakoran.co – fenomena unfollow massal dan seruan cancel culture menerpa

hal ini terjadi di tengah kritik publik atas dugaan penempatan keluarga dan kerabat dekat ke jabatan publik serta meski latar belakang pendidikan relatif rendah. 

kontroversi ini memicu reaksi luas di media sosial, terutama saat perusahaan miliknya, rans, tengah mempersiapkan ipo.

publik menyoroti ketidakadilan akses kerja bagi yang kesulitan mendapat kesempatan serupa. 

menurut data yang beredar luas di x (twitter), akun instagram @raffinagita1717 milik raffi ahmad dan nagita slavina disebut mengalami penurunan followers.

dari 75,2 juta menjadi 75,1 juta, atau turun sekitar 100 ribu hingga diklaim 1 juta akun dalam waktu singkat.

gambar perbandingan screenshot tersebut pertama kali viral melalui akun @bangherwin pada senin, 29 juni 2026, dengan 87.668 tayang per selasa pagi. 

uya kuya melalui akun @king_uyakuya turut menyoroti isu ini.

“guys ayo makin gencar kita bersik dan cancel culture nyal. terpantau follower turun sejak kemarin 75.2m ke 75.1m. meskipun cuma 1 juta tapi ga ada yg mustahil," tulis uya kuya di thread @king_uyakuya.

ia menekankan hak pekerjaan rakyat kecil yang dirampas elit.

“pasukan 1 lot memutuskan tidak ikut ipo $rans," tulis @lambesahamjja.

gambar pendukung menampilkan seruan boikot raffi ahmad sebagai buzzer terbesar beserta kritik keluarga yang banyak menduduki jabatan pejabat meski lulusan sma. 

narasi video dan komentar netizen yang beredar menunjukkan kemarahan akumulasi.

banyak warganet menyoroti ironi: “sekeluarga nya semua jadi pejabat, adik, ipar2 (dari raffi & nagita) semua jadi pejabat padahal rata2 mereka cuma lulusan sma. gimana kita gak kesel liatnya, adik2 kita yg sarjana aja nyari kerja halal setengah matiii,” tulis @dila.soed. 

kekuatan cancel culture sebagai senjata sosial media bagi masyarakat yang merasa akses ekonomi dan jabatan publik semakin tertutup bagi kalangan biasa.

bagi investor ritel (pasukan 1 lot), keputusan skip ipo rans mencerminkan penolakan terhadap pencampuran selebriti, politik, dan bisnis yang dianggap penuh risiko reputasi.

nilai jual kembali saham pun berpotensi terdampak jika sentimen negatif berlanjut.

Tag
Share