RAM 8 GB Masih Cukup untuk HP di 2026? Jangan Salah Pilih Sebelum Beli
Di tahun 2026, aplikasi makin canggih dan fitur AI bawaan ponsel makin rakus memori. Akibatnya, kapasitas RAM 8 GB yang dulu dirasa mewah, sekarang mulai engap-engapan buat diajak kerja keras atau sekadar multitasking harian. Berpindah aplikasi dikit, lan-foto : ist-
BACAKORAN.CO - Laju perkembangan teknologi perangkat bergerak berjalan dengan kecepatan yang sulit diredam.
Jika beberapa tahun lalu perangkat dengan kapasitas RAM 8 GB dianggap sebagai spesifikasi mewah yang hanya jamak ditemukan pada lini flagship kelas atas, kini peta persaingan telah berubah total.
Memasuki paruh kedua tahun 2026, angka tersebut telah bergeser menjadi standar baru untuk ponsel kelas pemula hingga menengah bawah.
Pertanyaan besar yang kini menghantui para calon pembeli adalah: apakah kapasitas memori sebesar itu masih sanggup menopang beban kerja sistem operasi modern, atau justru akan membuat Anda frustrasi dalam beberapa bulan ke depan?
Jawabannya sangat bergantung pada bagaimana Anda menggunakan perangkat tersebut, namun tren industri menunjukkan indikasi yang kurang menggembirakan bagi pencinta memori minimalis.
Penyebab utamanya tidak lain adalah ledakan teknologi On-Device AI (Kecerdasan Buatan lokal).
BACA JUGA:Mayat Misterius Mengapung di Parit Primer Babat Supat Muba, Polisi Cari Identitas
BACA JUGA:Ragnar Jadi Mesin Gol Persib, Dikontrak 3 Tahun!
Di tahun 2026, hampir semua produsen menyematkan fitur kecerdasan buatan terintegrasi yang berjalan langsung di dalam sistem latar belakang ponsel tanpa memerlukan koneksi internet cloud.
Proses komputasi cerdas seperti penyuntingan foto instan, penerjemah bahasa waktu nyata, hingga asisten suara pintar ini membutuhkan alokasi memori yang sangat masif agar bisa beroperasi tanpa hambatan.
Ketika fitur-fitur ini aktif, ruang tersisa pada RAM 8 GB akan langsung menyusut drastis.
Selain faktor AI, arsitektur aplikasi populer saat ini juga semakin rakus akan daya tampung memori.
Aplikasi media sosial berbasis video pendek, platform navigasi real-time, hingga sistem keamanan perbankan digital kini dirancang dengan lapisan enkripsi dan visual yang kompleks.
Hasilnya, aktivitas sederhana seperti berpindah dari aplikasi peta ke aplikasi perpesanan sering kali memicu fenomena force close atau sistem yang harus memuat ulang (reload) aplikasi dari awal karena memori yang tersedia sudah tidak mencukupi.