Petani Nyalakan Pompa Air Pakai Gas, Kini LPG Malah Sulit Didapat
Seorang petani di OKU Timur memperlihatkan penggunaan Gal LPG 3kg untuk menyalakan mesin pompa air. (foto: kholid/sumeks)--
BACAKORAN.CO – Petani di Kecamatan Semendawai Suku III, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, menemukan cara untuk menekan biaya irigasi di tengah mahal dan sulitnya memperoleh bahan bakar minyak (BBM).
Mereka memodifikasi mesin pompa air agar dapat menggunakan LPG 3 kilogram. Inovasi itu terbukti lebih hemat. Namun, meningkatnya penggunaan gas melon untuk mengairi sawah justru memicu kelangkaan LPG di sejumlah desa.
Kondisi tersebut terjadi saat pasokan air ke areal persawahan berkurang akibat curah hujan yang mulai menurun. Di sisi lain, proyek perbaikan tanggul dan jaringan irigasi belum rampung sehingga petani mengandalkan pompa air untuk menyelamatkan tanaman padi.
Salah seorang petani, Ranto, mengaku memodifikasi mesin pompa air miliknya agar dapat dioperasikan menggunakan tabung LPG 3 kilogram. Menurut dia, cara tersebut jauh lebih efisien dibandingkan menggunakan bensin.
BACA JUGA:Cukup Siram Air Panas, Gas LPG Habis Tiba-Tiba Nyala Lagi, Ini Caranya!
BACA JUGA:Polisi Bongkar Praktik Oplosan LPG Subsidi di Cimaung yang Rugikan Negara Rp 2,8 Miliar, 2 Pelaku Diamankan
"Kalau pakai bensin atau Pertalite, dua liter hanya bertahan sekitar dua jam. Tapi kalau pakai gas LPG 3 kilogram bisa sampai delapan jam, jadi lebih irit," katanya, seperti dikutip dari sumateraekspres.bacakoran.co, Rabu (8/7/2026).
Perbandingan biaya juga menjadi alasan utama petani beralih menggunakan gas. Saat ini harga Pertalite mencapai sekitar Rp10 ribu per liter, sedangkan isi ulang LPG 3 kilogram berkisar Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per tabung.
Dengan waktu operasional yang lebih lama, penggunaan gas LPG 3 kilogram untuk mesin pompa air sawah di OKU Timur dinilai mampu mengurangi pengeluaran petani.
Namun, solusi tersebut menghadirkan persoalan baru. Permintaan LPG 3 kilogram meningkat tajam sehingga stok di Kecamatan Semendawai Suku III mulai sulit diperoleh. Dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga masyarakat yang membutuhkan gas untuk memasak.
BACA JUGA:Sebelum Bakar Rumah, Mantan Menantu Perempuan Datang Bawa BBM Lalu Siramkan ke Spring Bed
BACA JUGA:Rumah yang Terbakar di Desa Tambak, PALI Diduga Disebabkan Menantu Perempuan
Salah seorang warga, Sulis, mengaku harus mencari LPG hingga ke Kecamatan Belitang II karena pangkalan di wilayahnya sering kehabisan stok.
"Kalaupun ada, harganya sekitar Rp30 ribu sampai Rp33 ribu per tabung. Tapi sering kali tetap tidak dapat karena barangnya habis," ujarnya.
Menurut Sulis, masyarakat kini berada dalam posisi serba sulit. Di satu sisi, petani membutuhkan LPG untuk menjaga tanaman padi tetap hidup. Di sisi lain, rumah tangga juga bergantung pada gas bersubsidi tersebut untuk kebutuhan sehari-hari.
Selain persoalan LPG, petani juga mengeluhkan sulitnya memperoleh BBM bersubsidi untuk mengoperasikan mesin pompa air. Sementara penggunaan BBM nonsubsidi seperti Pertamax maupun Dexlite dinilai semakin membebani biaya produksi karena harganya lebih tinggi.
BACA JUGA:Badai EV Baru! 6 Merek Otomotif Ini Siap Bikin Kejutan di GIIAS Akhir Juli 2026
BACA JUGA:Jangan Panik! Ini Penyebab Rem Cakram Berisik dan Cara Mengatasinya
Para petani berharap pemerintah segera mempercepat penyelesaian proyek tanggul dan jaringan irigasi agar pasokan air kembali normal. Mereka juga meminta distribusi LPG 3 kilogram dan BBM bersubsidi diperbaiki sehingga kebutuhan sektor pertanian maupun rumah tangga dapat terpenuhi tanpa saling berebut.