Rp 229 Triliun untuk Apa? Fakta MBG: 74% Lauk Nabati Tak Dimakan, Ratusan Ton Makanan Jadi Tinja
Utang RI tembus Rp 10.293 T, MBG tetap jadi program andalan. Tapi data mengungkap: 24% makanan terbuang.gbr.x.com--
Makan Bergizi Gratis atau Industri Triliunan yang Berakhir di Tong Sampah?
Pertanyaan yang Tak Bisa Dihindari
BACAKORAN.CO - Di tengah posisi utang pemerintah yang telah menembus Rp 10.293,69 triliun per Juli 2026, angka yang naik Rp 373 triliun hanya dalam waktu tiga bulan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih kokoh berdiri sebagai program andalan pemerintahan Prabowo-Gibran. Dikemas dengan narasi megah sebagai "investasi Generasi Emas 2045", program ini menyerap anggaran fantastis: awalnya diusulkan Rp 335 triliun untuk 2026, lalu dipangkas menjadi Rp 268 triliun, dan akhirnya sekitar Rp 229 triliun pada Juli 2026 dengan alasan "fokus pada kualitas".
Tapi pertanyaan mendasar mulai mengemuka dan menuntut jawaban: Apakah uang triliunan itu benar-benar berubah menjadi gizi yang masuk ke perut anak Indonesia? Ataukah ia hanya berubah menjadi aliran pendapatan bagi industri pangan dan ratusan ton limbah yang berakhir di tong sampah atau lebih kasar lagi: "industrialisasi tinja"?
Data-data terbaru yang terkumpul dari berbagai
penelitian independen, lembaga pengawas, dan media mengungkap sisi kelam yang selama ini tertutup gemerlapnya angka-angka jumlah porsi yang disajikan.
FAKTA 1: Seperempat Hingga Tiga Perempat Makanan Berakhir Tak Tersentuh
Jika pemerintah bangga mengumumkan jutaan porsi yang dimasak setiap hari, penelitian lapangan menceritakan kisah yang jauh berbeda:
Studi di Aceh Timur: Rata-rata 24,3% dari porsi yang disajikan berakhir sebagai sampah makanan. Angka ini bahkan lebih buruk di tingkat SMP, mencapai 29,8%. Sisa terbanyak berasal dari makanan pokok, sayuran, dan lauk nabati.- Penelitian di Tasikmalaya: Temuan yang lebih mengejutkan 74,29% lauk nabati tersisa tidak dimakan oleh siswa. Buah dan lauk hewani memang lebih sedikit sisanya, tapi tetap di angka yang mengkhawatirkan.
Observasi di SD: Sebanyak 62% siswa menyisakan sayur dan 55% menyisakan buah dalam menu MBG mereka.Peneliti Universitas Indonesia dengan tegas menyatakan: "Keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari jumlah makanan yang dibagikan, tetapi juga dari seberapa banyak makanan tersebut benar-benar dikonsumsi." Sebuah pernyataan yang terdengar sangat masuk akal, namun entah mengapa masih menjadi konsep asing bagi para pengelola program.
Dan kerugiannya bukan main-main. Proyeksi Databoks Katadata menunjukkan: nilai kehilangan ekonomi dari makanan MBG yang terbuang diperkirakan mencapai Rp 128 triliun selama 5 tahun pelaksanaan (2025–2029).
Pada tahun 2029 saja, kerugian tahunannya bisa mencapai Rp 46,51 triliun setara 17,36% dari total anggaran.Ironisnya, di Kabupaten Rembang, sisa makanan ini bahkan dilarang dibawa pulang oleh siswa dengan alasan "penting untuk evaluasi kinerja SPPG". Sebuah kebijakan yang mempertahankan pemborosan demi kepentingan administratif semata.
BACA JUGA:39 Siswa SD di Sukabumi Diduga Keracunan Usai Minum Susu MBG Kedaluwarsa, Ini Kronologinya
FAKTA 2: Dari "Investasi Gizi" Menjadi "Industri Makanan Ultra-Olahan"
Ahli gizi terkemuka seperti dr. Tan Shot Yen telah lama bersuara kritis: MBG dinilai "melenceng jauh" dari tujuan awal memperbaiki kualitas gizi anak. Menurutnya, program ini terjebak dalam "produk industri", bukan membangun kebiasaan makan sehat berbasis pangan lokal.
Kritiknya bukan tanpa dasar. Menu seperti burger dan spageti yang dikategorikan sebagai ultra-processed food (UPF) atau makanan ultra-olahan sering muncul dalam daftar menu MBG. Makanan jenis ini memang disukai anak karena rasanya yang kuat, namun kandungan nutrisinya rendah dan justru berisiko menimbulkan masalah kesehatan jangka panjang.
Di sinilah metafora "industrialisasi tinja" mendapatkan konteksnya: ketika program yang seharusnya menjadi instrumen perbaikan gizi nasional justru berubah menjadi pasar yang menguntungkan bagi produsen makanan olahan besar, sementara output akhirnya bukanlah anak yang lebih sehat, melainkan limbah dan potensi penyakit gaya hidup di masa depan.