bacakoran.co

Mitra MBG SPPG Batupapan Tuai Kecaman Usai Sebut 'Kalau Makanan Berbau Kenapa Dimakan' di Depan Orang Tua

Ucapan Perwakilan Yayasan Soal Makanan Bau Picu Protes Keras Orangtua Korban MBG --X

BACAKORAN.CO – Pernyataan seorang mitra MBG perwakilan Yayasan Champaca Virginiana saat Rapat Dengar Pendapat di DPRD Tana Toraja memicu gelombang kemarahan orangtua siswa.

Dalam rapat yang membahas SOP pengolahan dan distribusi makanan SPPG Makale Batupapan 1, perwakilan yayasan itu melontarkan kalimat “Kalau makanan sudah bau kenapa dimakan?”.

Ucapan tersebut langsung mendapat protes keras karena dinilai tidak empati terhadap ratusan siswa dan guru yang diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis.

Kronologi Dugaan Keracunan MBG di Tana Toraja

Pada Rabu, 2 September 2026, siswa SMPN 1 Makale dan SMPN 2 Makale menerima menu Makan Bergizi Gratis dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Makale Batupapan 1.

BACA JUGA:Kemenkop Minta Tambahan Rp4,53 Triliun, DPR Soroti Nasib Puluhan Ribu Manajer Kopdes

Menu yang disajikan terdiri dari ayam masak kuning, tempe goreng tepung, tumis sayur (labu siam, wortel, dan jagung), serta buah melon.

Gejala mulai muncul pada Rabu malam hingga Kamis pagi, 3 September 2026.

Para siswa mengeluh mual, muntah, pusing, sakit perut, dan diare.

Jumlah korban terus bertambah.

Data sementara mencapai lebih dari 160 orang, termasuk beberapa guru.

Mereka dirawat di tiga rumah sakit RSUD Lakipadada, RS Sinar Kasih, dan RS Fatima.

BACA JUGA:Heboh di Medsos, Klaim Bocor Alus Tempo soal Demo AMPB RUU Perampasan Aset, Ada Rekayasa?

Dinas Kesehatan Tana Toraja dan Satgas MBG setempat segera bergerak.

Sampel makanan dan muntahan dikirim ke BPOM untuk diuji laboratorium.

Mitra MBG SPPG Batupapan Tuai Kecaman Usai Sebut 'Kalau Makanan Berbau Kenapa Dimakan' di Depan Orang Tua

Deby Tri

Deby Tri


bacakoran.co – pernyataan seorang mitra mbg perwakilan yayasan champaca virginiana saat rapat dengar pendapat di dprd tana toraja memicu gelombang kemarahan orangtua siswa.

dalam rapat yang membahas sop pengolahan dan distribusi makanan sppg makale batupapan 1, perwakilan yayasan itu melontarkan kalimat “kalau makanan sudah bau kenapa dimakan?”.

ucapan tersebut langsung mendapat protes keras karena dinilai tidak empati terhadap ratusan siswa dan guru yang diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu makan bergizi gratis.

kronologi dugaan keracunan mbg di tana toraja

pada rabu, 2 september 2026, siswa smpn 1 makale dan smpn 2 makale menerima menu makan bergizi gratis dari satuan pelayanan pemenuhan gizi (sppg) makale batupapan 1.

menu yang disajikan terdiri dari ayam masak kuning, tempe goreng tepung, tumis sayur (labu siam, wortel, dan jagung), serta buah melon.

gejala mulai muncul pada rabu malam hingga kamis pagi, 3 september 2026.

para siswa mengeluh mual, muntah, pusing, sakit perut, dan diare.

jumlah korban terus bertambah.

data sementara mencapai lebih dari 160 orang, termasuk beberapa guru.

mereka dirawat di tiga rumah sakit rsud lakipadada, rs sinar kasih, dan rs fatima.

dinas kesehatan tana toraja dan satgas mbg setempat segera bergerak.

sampel makanan dan muntahan dikirim ke bpom untuk diuji laboratorium.

sementara itu, operasional sppg makale batupapan 1 dihentikan sementara selama 30 hari.

karyawan sppg juga menjalani asesmen.

kepala sppg makale batupapan 1, vielty patricia, dalam rdp menyatakan bahwa makanan sudah melalui uji organoleptik oleh ahli gizi sebelum dikirim.

“jadi yang bertanggung jawab itu ahli gizi. untuk penentuan apakah makanan ini layak dikonsumsi atau tidak, ada uji organoleptik, dikonsumsi oleh ahli gizi sebelum dikirim ke penerima manfaat,” ujar vielty patricia.

pernyataan kontroversial di ruang paripurna dprd

rapat dengar pendapat digelar di ruang paripurna dprd tana toraja pada jumat, 4 september 2026.

hadir di antaranya perwakilan sppg, kantor pemenuhan gizi, orangtua siswa, dan anggota dewan.

saat membahas sop pengolahan dan distribusi makanan, perwakilan yayasan champaca virginiana yayasan yang membawahi sppg tersebut melontarkan pernyataan yang memicu reaksi emosional.

“kalau makanan sudah bau kenapa dimakan?," ujarnya.

sebagaimana dikutip dari akun x @independentjawa pada tanggal 5 september 2026, pernyataan tersebut langsung memanen protes keras dari orangtua murid yang hadir.

mereka menilai pihak yayasan sama sekali tidak berempati terhadap para korban.

“kalau udah bau ngapain dikirim gblk!! mikir kesana gasi,” tulis @zaynnhann.  

“semoga anak mu keracunan dulu ya bu baru kamu ngomong gtu lagi,” komentar @bigbens1717.  

“kalau sudah berbau kenapa masih dikasihkan?” tanya @sponsmanacc.

orangtua siswa merasa pernyataan itu seolah menyalahkan korban.

beberapa orangtua sebelumnya juga mengaku anak mereka melaporkan bahwa makanan terasa tidak segar atau berbau saat diterima.

wakil ketua ii dprd tana toraja, evivana rombe datu, dalam hasil rekomendasi rapat mendesak agar seluruh biaya pengobatan yang tidak terjangkau bpjs ditanggung oleh kppg, bgn, dan sppg terkait.

dprd juga meminta evaluasi menyeluruh terhadap program mbg di daerah tersebut.

satgas mbg tana toraja dan pemerintah daerah menegaskan bahwa mereka mengutamakan praduga tidak bersalah sambil menunggu hasil laboratorium.

namun tekanan publik tetap tinggi karena kasus serupa pernah terjadi di daerah lain terkait program mbg.

hingga saat ini, hasil uji laboratorium dari bpom masih ditunggu.

pihak terkait diminta memberikan penjelasan yang lebih empatik dan solusi konkret bagi para korban.

Tag
Share