bacakoran.co

Self-Reward Gen Z, Makanan Favorit Jadi Pilihan Utama

Self-Reward Gen Z, Makanan Favorit Jadi Pilihan Utama.gbr-- gemini--

Kepuasan sesaat dari transaksi kemudian dapat membuat seseorang kembali mencari pengalaman serupa ketika menghadapi tekanan emosional berikutnya.

Karena itu, batas antara apresiasi diri dan perilaku konsumtif perlu dilihat dari kemampuan seseorang mempertimbangkan kondisi finansial serta kebutuhan di masa depan. Self-reward tidak harus selalu berbentuk transaksi atau pembelian barang.

Istirahat, menjalankan hobi, menonton film, berolahraga, membaca buku, atau menghabiskan waktu bersama orang terdekat juga dapat menjadi bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.

Pilihan tersebut dapat memberikan ruang untuk memulihkan energi tanpa selalu menambah pengeluaran.

Temuan riset PKM-RSH UGM ini memperlihatkan bahwa keputusan konsumsi Gen Z tidak hanya berkaitan dengan kemampuan finansial.

Kondisi emosional, kemudahan transaksi digital, dan paparan konten komersial juga dapat ikut memengaruhi keputusan melakukan self-reward.

Pada akhirnya, menghargai diri sendiri tetap dapat dilakukan dengan berbagai cara.

Namun, self-reward yang sehat perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan dan kebutuhan agar kepuasan hari ini tidak berubah menjadi beban finansial di masa depan.(wira)

Self-Reward Gen Z, Makanan Favorit Jadi Pilihan Utama

Wira

djarwo


bacakoran.co - self-reward menjadi kebiasaan yang cukup dekat dengan untuk meredakan lelah, stres, tekanan pekerjaan, maupun kejenuhan. 

temuan tersebut terlihat dalam riset tim program kreativitas mahasiswa riset sosial humaniora (pkm-rsh) universitas gadjah mada (ugm) yang melibatkan 384 responden gen z.

riset itu menemukan bahwa makanan menjadi bentuk self-reward yang paling banyak dipilih gen z, dibandingkan membeli barang atau melakukan aktivitas tanpa transaksi. 

temuan tersebut disampaikan anggita rasya ananta dari tim pkm-rsh ugm dalam keterangan tertulis resmi ugm pada selasa (8/9/2026).

menurut anggita, keputusan melakukan self-reward tidak selalu muncul karena seseorang telah mencapai target tertentu.

dalam sejumlah temuan  kualitatif, keputusan tersebut dapat berkaitan dengan kondisi emosional yang sedang dirasakan.

“dari temuan kualitatif, kami melihat bahwa keputusan self-reward bisa muncul sebagai respons terhadap perasaan yang sedang dialami,” ungkap anggita.

makanan jadi self-reward favorit gen z

bentuk self-reward di kalangan gen z cukup beragam. 

mulai dari membeli makanan favorit, mencoba minuman yang sedang tren, berbelanja pakaian, membeli barang yang sudah lama diinginkan, hingga melakukan aktivitas yang tidak membutuhkan pengeluaran.

namun, hasil riset tim pkm-rsh ugm menunjukkan makanan menjadi pilihan paling dominan. 

dari 384 responden yang diteliti, sebanyak 42 persen memilih makanan sebagai bentuk self-reward.

pilihan berikutnya adalah membeli barang dengan persentase 33,5 persen. sementara itu, sebanyak 24,5 persen responden memilih bentuk self-reward yang tidak melibatkan pembelian barang.

data tersebut menunjukkan bahwa self-reward tidak selalu identik dengan membeli barang mahal. 

makanan dan aktivitas sederhana dapat menjadi cara bagi seseorang untuk memberikan penghargaan kepada dirinya sendiri setelah menjalani rutinitas yang melelahkan.

transaksi digital memudahkan self-reward

riset tersebut juga menemukan adanya pengaruh kemudahan transaksi digital terhadap perilaku self-reward. 

kehadiran mobile banking, qris, dompet digital, serta berbagai layanan pembayaran membuat transaksi dapat dilakukan dengan cepat.

di sisi lain, media sosial juga menghadirkan berbagai konten komersial yang berpotensi mendorong keputusan konsumsi.

konten rekomendasi produk, tren makanan dan minuman, promosi, diskon, hingga gaya hidup dapat membuat keinginan membeli muncul secara spontan.

kondisi tersebut membuat self-reward semakin mudah dilakukan. 

ketika seseorang sedang lelah atau membutuhkan hiburan, akses transaksi yang cepat dapat membuat keputusan membeli sesuatu terjadi tanpa banyak pertimbangan.

menurut anggita, kondisi ini menunjukkan bahwa literasi keuangan saja belum tentu cukup untuk mencegah pembelian impulsif.

seseorang bisa memahami pentingnya membuat anggaran, menabung, serta membedakan kebutuhan dan keinginan, tetapi tetap dapat terdorong mencari kepuasan secara cepat.

“literasi keuangan memberi dasar bagi seseorang untuk memahami konsekuensi dari keputusan finansial, tetapi dalam praktiknya kita juga perlu melihat bagaimana seseorang mengendalikan dorongan ketika ada keinginan untuk mendapatkan kepuasan secara langsung,” jelasnya.

self-reward bisa berubah jadi perilaku konsumtif

self-reward pada dasarnya tidak selalu menjadi persoalan selama dilakukan secara terukur. 

masalah dapat muncul ketika pembelian dilakukan berulang kali dengan alasan meredakan stres, lelah, bosan, atau sebagai kompensasi setelah menjalani aktivitas tertentu.

jika pola tersebut terus berlangsung, self-reward berpotensi berubah menjadi kebiasaan konsumtif.

kepuasan sesaat dari transaksi kemudian dapat membuat seseorang kembali mencari pengalaman serupa ketika menghadapi tekanan emosional berikutnya.

karena itu, batas antara apresiasi diri dan perilaku konsumtif perlu dilihat dari kemampuan seseorang mempertimbangkan kondisi finansial serta kebutuhan di masa depan. self-reward tidak harus selalu berbentuk transaksi atau pembelian barang.

istirahat, menjalankan hobi, menonton film, berolahraga, membaca buku, atau menghabiskan waktu bersama orang terdekat juga dapat menjadi bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.

pilihan tersebut dapat memberikan ruang untuk memulihkan energi tanpa selalu menambah pengeluaran.

temuan riset pkm-rsh ugm ini memperlihatkan bahwa keputusan konsumsi gen z tidak hanya berkaitan dengan kemampuan finansial.

kondisi emosional, kemudahan transaksi digital, dan paparan konten komersial juga dapat ikut memengaruhi keputusan melakukan self-reward.

pada akhirnya, menghargai diri sendiri tetap dapat dilakukan dengan berbagai cara.

namun, self-reward yang sehat perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan dan kebutuhan agar kepuasan hari ini tidak berubah menjadi beban finansial di masa depan.(wira)

Tag
Share