Guru Disorot dalam Polemik MBG, Warganet Desak Evaluasi SPPG
Guru Disorot dalam Polemik MBG, Warganet Desak Evaluasi SPPG.gbr.X.com--
BACAKORAN.CO – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perbincangan di media sosial setelah akun X @NenkMonica mengkritik sikap terhadap guru yang ikut mengawal pelaksanaan program di sekolah. Ia menilai guru seharusnya mendapat apresiasi, bukan dituding sebagai pihak yang memperbesar persoalan di media sosial.
Unggahan tersebut dipublikasikan pada Kamis, 17 September 2026. Kritik itu kemudian mendapat beragam tanggapan dari warganet, mulai dari dukungan terhadap guru hingga seruan untuk mengevaluasi kualitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
BACA JUGA:P2G Geram, Jangan Jadikan Guru Kambing Hitam Keracunan MBG
Kritik Monica terhadap Pernyataan Kepala BGN
Dalam unggahannya, Monica menyoroti sejumlah peran guru dalam pelaksanaan MBG. Menurutnya, guru tidak hanya menjalankan tugas mengajar, tetapi juga membantu menyiapkan kelas, mendampingi siswa saat makan, memberikan edukasi gizi, serta menjadi pihak pertama yang menerima laporan persoalan di sekolah.
Ia menilai pernyataan yang mengaitkan ramainya kritik MBG dengan guru, orang tua, dan LSM berpotensi melukai perasaan tenaga pendidik.
“Sangat disayangkan, alih-alih mendapat apresiasi, guru justru dituding sebagai pihak yang membuat ramai di media sosial.”
Monica kemudian menyampaikan tiga hal yang menurutnya perlu diperhatikan Kepala BGN, yaitu menjaga empati terhadap guru, menghargai kontribusi sukarela tenaga pendidik, serta memprioritaskan evaluasi kualitas SPPG.
Kritik tersebut muncul setelah Kepala BGN Sudaryono menyebut guru, orang tua siswa, wartawan, dan sejumlah pihak LSM sebagai kelompok yang ikut membuat persoalan MBG ramai di media sosial. Pernyataan Sudaryono tersebut diberitakan sejumlah media pada 14–15 September 2026.
Warganet Soroti Tanggung Jawab dan Keamanan MBG
Unggahan Monica memicu respons dari sejumlah pengguna X. Sebagian warganet menyatakan dukungan terhadap guru dan menyoroti risiko yang dapat muncul ketika tanggung jawab pelaksanaan MBG di sekolah tidak dibagi secara jelas.
Akun @Hendra637994 menyinggung persoalan kesejahteraan guru honorer. Ia juga mempertanyakan kemungkinan beban risiko keracunan MBG justru dibebankan kepada guru.
Sementara itu, akun @ImminentAdi menyerukan kerja sama antara guru, kepala sekolah, siswa, orang tua, dan dinas pendidikan untuk menghadapi SPPG yang dinilai bermasalah.
Akun @Zofr4iW3nK bahkan menyerukan penolakan terhadap program MBG. Namun, pernyataan tersebut merupakan pendapat individu di media sosial dan tidak mewakili sikap seluruh orang tua, siswa, maupun tenaga pendidik.
Berbeda dengan komentar tersebut, akun @Rahadi0816 menekankan pentingnya mendengarkan guru karena mereka dinilai memahami kondisi serta kebutuhan siswa di sekolah.