BACAKORAN.CO - Mahasiswa turun ke jalan untuk melakukan aksi demo menentang RUU TNI yang baru disahkan oleh DPR RI, dalam aksi terdapat kejadian yang menghebohkan.
Pasalnya seorang pria berinisial R (22) yang berprofesi sebagai ojek online mengaku jadi korban pengeroyokan yang diduga dilakukan oleh anggota brimob di Kolong Jembatan Layang, Ladokgi, Tanah Abang, Jakarta pusat Kamis (20/3/2025) malam hari.
Ia menjelaskan bagaimana momen pemukulan yang dialaminya, saat diduga anggota polisi tersebut memukul mundur aksi massa yang menolak rancangan RUU TNI tersebut didepan gedung DPR RI.
"Pas (massa) sudah pada ke sana (dipukul mundur ke arah Kemenpora), gue masih di sini (kolong jembatan layang Ladokgi). Gue kira enggak kena, ternyata kena,” ujarnya usai mendapatkan penanganan medis, dikutip dari Viva.com, Jum'at (21/3/2025).
BACA JUGA:Terungkap Alasan Megawati Saat Ini Dukung RUU TNI Disahkan, Hal Ini Pemicunya!
Ia mengatakan ada dilokasi tersebut karena ingin charge handphone karena baterainya habis, kemudian memutuskan untuk menonton aksi massa tersebut.
Kemudian anggota berpakaian brimob menghampiri dan langsung menuding ia adalah mahasiswa, belum sempat menjelaskan ia kemudian dikeroyok.
"(Polisi tanya) kamu mahasiswa ya? Saya (jawab), bukan Pak. Langsung datang semua. Langsung dipaksa buat ngomong kalau gue mahasiswa,” ujarnya.
Pada kejadian itu, R hanya bisa meringkuk melindungi kepalanya, dalam kejadian ini ia mengalami luka di kepala bagian kiri. Saat ditemui, R sudah mendapatkan perban di kepalanya.
BACA JUGA:Tolak RUU TNI, Bendera Indonesia Gelap Berkibar Setengah Tiang Didepan Gedung Pancasila
“20 (orang) hampir (yang keroyok). Tendangan, pentungan. Iya kepala (yang cukup fatal). Cuma aman Insya Allah,” tuturnya.
Sebelumnya Rapat Paripurna DPR RI yang ke-15 dalam Masa Persidangan II Tahun Sidang 2024–2025 telah menyetujui RUU tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 mengenai Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk disahkan menjadi undang-undang.
Persetujuan ini dipimpin oleh Ketua DPR RI Puan Maharani dan dihadiri oleh beberapa pejabat penting termasuk Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi serta Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto.