Namun, tingginya harga gabah membuat pengusaha penggilingan padi harus menyesuaikan harga jual beras agar tetap memperoleh margin keuntungan.
Distribusi dan Penggilingan Jadi Tantangan
Menurut Perpadi, meski stok beras melimpah, efisiensi distribusi dan penggilingan masih menjadi masalah struktural.
Biaya logistik yang tinggi dan persaingan antar penggilingan padi menyebabkan harga beras di konsumen ikut naik.
BACA JUGA:Rahasia Pemerintah Bikin Stok Cadangan Beras Meledak, Cetak Rekor Tembus 4 Juta Ton!
Ditambah lagi, penggilingan kecil kesulitan bersaing dengan korporasi besar yang memiliki modal dan teknologi lebih unggul.
Dampak Langsung ke Konsumen
Kenaikan harga beras dirasakan di 163 kabupaten/kota di Indonesia.
Di zona 1 (Sumatera–Jawa), harga rata-rata mencapai Rp 14.211/kg, zona 2 (Kalimantan–Sulawesi) Rp 15.293/kg, dan zona 3 (Maluku–Papua) bahkan menyentuh Rp 19.798/kg.
BACA JUGA:Bukan Sumsel, Ini Daerah Penyumbang Terbesar yang Bikin Serapan Beras Bulog Cetak Rekor!
BACA JUGA:Gudang Bulog Full! Stok Beras Pecah Rekor 57 Tahun Sejak Zaman Soeharto
Di beberapa daerah ekstrem, harga beras dilaporkan mencapai Rp 54.000/kg.
Kondisi ini memicu inflasi dan menggerus daya beli masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah.
Beras sebagai bahan pokok utama menyumbang inflasi sebesar 0,04% pada Juni 2025.
Masalah Struktural dan Solusi Pemerintah
BACA JUGA:Plong! Stok di Bulog Capai 2,2 Juta Ton, Beras Aman Jelang Lebaran Idulfitri 1446 H