BACAKORAN.CO - Panggung geopolitik Asia Selatan dihebohkan sebuah laporan eksklusif dari The Sunday Guardian tentang dugaan Amerika Serikat (AS) diam-diam mengalirkan dana jumbo lebih dari US$900 juta atau setara Rp14 triliun ke Nepal sejak 2020.
Dana raksasa itu dituding sebagai amunisi untuk menggerakkan demonstrasi berdarah sekaligus mengutak-atik kekuasaan di Nepal.
Bocoran Dokumen Sensitif
Informasi mengejutkan ini konon bersumber dari seorang whistleblower tingkat tinggi yang memiliki akses ke dokumen rahasia aliran dana.
BACA JUGA:Wali Kota Prabumulih H Arlan Mengucapkan Permohonan Maaf Kepada Roni Ardiansyah Kepala SMP Negeri 1
Catatan itu memuat detail transaksi hingga nama politikus lokal yang disebut-sebut ikut dirugikan dalam proses “perubahan rezim” ala Washington.
Dalam dokumen yang dibocorkan, AS tercatat menyalurkan lebih dari US$900 juta ke berbagai sektor di Nepal.
Aliran dana meliputi dukungan pemerintahan, media, gerakan sipil, hingga konsorsium elektoral yang dikelola Center for Electoral Politics & Policy
Support (CEPPS) yang bermarkas di Washington.
BACA JUGA:Stok BBM Kosong Paksa SPBU Shell PHK Karyawan? Begini Penjelasan Perusahaan!
BACA JUGA:Kepala SMP Negeri 2 Kota Prabumulih Wakili Indonesia ke Filipina
Termasuk organisasi seperti National Democratic Institute (NDI), International Republican Institute (IRI), dan International Foundation for Electoral Systems (IFES).
Skema Dana Jumbo
Skala investasi ini dinilai sangat tidak lazim untuk negara sekecil Nepal.
USAID menandatangani Development Objective Agreement (DOAG) senilai US$402,7 juta (sekitar Rp6 triliun) dengan Kementerian Keuangan Nepal pada Mei 2022.