Seorang jurnalis AFP melaporkan bahwa bahkan ada oknum aparat yang terlihat melempar batu balik ke arah demonstran.
BACA JUGA:Aktivitas Dahsyat! Gunung Lewotobi Erupsi Sampai 31 Kali dan Melumpuhkan Tiga Bandara di NTT
Kondisi ini semakin memperkeruh situasi hingga beberapa titik aksi berubah kacau.
Tak hanya di Luneta, ribuan warga lain juga memadati jalan raya EDSA, lokasi bersejarah yang dulu menjadi titik Revolusi 1986 untuk menggulingkan ayah Presiden Marcos.
Banyak peserta membawa bendera Filipina dan poster bertuliskan slogan antikorupsi.
“Saya jarang ikut demo, tapi kasus ini membuat saya merasa harus turun ke jalan. Cukup sudah,” ujar Mitzi Bajet, desainer berusia 30 tahun, kepada AFP.
BACA JUGA:Empat Pemuda Tewas Usai Pesta Miras di Mamuju, Belasan Orang Kritis dan 2 Pemberi Minuman Masuk DPO
Polisi menegaskan mereka menghormati hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat, namun memperingatkan bahwa aksi kekerasan, vandalisme, dan perusakan tidak akan ditoleransi.
Meski berakhir ricuh, aksi besar-besaran ini menjadi simbol kuat bahwa masyarakat Filipina semakin vokal melawan korupsi dan proyek fiktif yang merugikan negara.
Tekanan publik kini makin besar terhadap pemerintah untuk segera mengusut tuntas skandal tersebut dan menindak tegas pihak-pihak yang terlibat.