BACA JUGA:Koyo untuk Meredakan Nyeri Ibu Hamil, Aman atau Berbahaya?
BACA JUGA:Bukan Sekadar Ikan! dr. Boyke Ungkap Khasiat Ikan Gabus untuk Ibu Hamil dan Pasca Lahiran
Kesedihan adalah hal yang wajar, tetapi jika berlebihan dan berlangsung terus-menerus, dampaknya bisa serius.
dr Zaidul Akbar menekankan bahwa kesedihan mendalam dapat mengganggu kestabilan emosional janin.
Anak yang lahir dari kondisi ini berisiko menjadi pribadi yang mudah murung, sensitif, atau sulit mengendalikan perasaan.
4. Rasa Curiga yang Berlebihan
Curiga berlebihan, misalnya terhadap pasangan, juga termasuk emosi yang sebaiknya dihindari.
Menurut dr Zaidul Akbar, kondisi ini bisa membentuk pola pikir was-was dan rasa cemas pada anak.
Emosi negatif yang berulang membuat tubuh ibu berada dalam kondisi tegang, dan ketegangan itu “terekam” sebagai pola dalam diri janin.
5. Kebiasaan Marah dan Mengomel
BACA JUGA:4 Physical Sunscreen Aman untuk Ibu Hamil dan Menyusui, Bebas Iritasi & Lindungi Kulit dari Sinar UV
BACA JUGA:Dokter Kulit Rekomendasiin! Ini 3 Sunscreen Physical yang Aman dan Cocok Buat Ibu Hamil!
Amarah yang sering dilampiaskan dapat menjadi “data emosi” yang menempel pada gen anak.
“Enggak boleh sering-sering marah, enggak boleh sering-sering ngomel saat hamil. Semua itu terekam,” tegas dr Zaidul Akbar.
Anak yang lahir dari ibu yang sering marah saat hamil berisiko tumbuh dengan sifat temperamental, impulsif, dan sulit mengendalikan emosi.
Pentingnya Doa dan Perbaikan Diri
Selain menjaga emosi, dr Zaidul Akbar juga menekankan pentingnya mendoakan orangtua dan leluhur.
Menurutnya, rekaman pengalaman mereka pun turut memengaruhi generasi berikutnya.
“Mintakan ampun untuk semua kekurangan dan kelemahan leluhur. Itu terekam di genetik kita. Tugas kita ke depan perbaiki,” pesannya.