Meski penjualan iPhone Air tidak sepenuhnya memuaskan, Apple terlihat tetap percaya diri dengan visi desain tipis dan efisiensi ruang internal.
Dari berbagai laporan yang beredar, iPhone lipat diprediksi hadir dengan desain seperti buku, membawa layar luar sekitar 5,5 inci dan layar dalam mendekati 7,8 inci.
Ukuran ini membuat pengalaman penggunaannya disebut-sebut mirip iPad mini dalam format yang jauh lebih ringkas.
Bahkan ada yang menggambarkannya seperti dua iPhone Air berbahan titanium yang disatukan dalam satu perangkat elegan.
BACA JUGA:5 iPhone Paling Layak Dibeli Tahun 2026! Dari Seri Terbaru Hingga Generasi yang Masih Relevan
BACA JUGA:Resmi Turun! iPhone 17 Air Kini Dibanderol Rp 17 Jutaan, Jauh Lebih Murah dari Harga Awal
Penggunaan eSIM sepenuhnya sebenarnya memberi banyak keuntungan teknis bagi perangkat lipat.
Tanpa slot SIM fisik, ruang di dalam bodi bisa dialokasikan untuk baterai yang lebih besar, sistem pendingin lebih optimal, serta mekanisme engsel yang lebih kuat.
Dalam dunia ponsel lipat, setiap ruang kecil sangat menentukan daya tahan dan kenyamanan penggunaan jangka panjang.
Namun di balik keunggulan tersebut, tantangan besar menanti, terutama di pasar Cina yang masih sangat bergantung pada kartu SIM fisik dan konfigurasi dual-SIM.
Budaya jual beli perangkat yang cepat dan kebiasaan mengganti SIM secara instan membuat eSIM kerap dianggap merepotkan.
BACA JUGA:Turun Gila-Gilaan! iPhone 17 Air Kini Rp17 Jutaan, Spek Tipis Tapi Performa Nggak Main-Main
Apple sendiri sudah merasakan tantangan ini lewat iPhone Air yang bergantung penuh pada dukungan operator besar di Cina.
Secara global, adopsi eSIM memang semakin meluas, termasuk di Amerika Serikat dan India yang infrastrukturnya sudah relatif siap.
Meski begitu, sebagian pengguna masih merasa kehilangan fleksibilitas ketika kartu SIM fisik benar-benar dihapus.