Tekstur midsole pada Adizero FSL asli terasa halus dan mulus saat disentuh. Foam-nya padat namun responsif.
Sementara itu, versi palsu biasanya memiliki tekstur kasar dengan permukaan tidak rata, terasa “berbutir”, dan kualitas bantalan yang jauh di bawah standar sepatu performance.
Detail lain yang sangat krusial terdapat pada garis pembatas three stripes di sisi sepatu.
Pada sepatu asli, garis ini sejajar dan pas dengan posisi three stripes tanpa kelebihan atau kekurangan.
BACA JUGA:Spotec, Brand Sepatu Lokal Legendaris yang Tetap Relevan Hingga Sekarang Murah tapi Berkualitas
Sebaliknya, pada sepatu palsu, posisi stripes sering terlihat “offside”, melewati batas garis atau tidak sejajar. Ketidakkonsistenan ini menjadi ciri umum produk tiruan.
Beralih ke area collar dan tongue, Adidas Adizero FSL asli memiliki tag “ADO” dengan tampilan semi-transparan.
Warnanya tidak hitam pekat, melainkan memiliki nuansa gelap yang masih terlihat detailnya.
Pada versi palsu, tag ini biasanya berwarna hitam solid menyerupai karet, tanpa transparansi sama sekali.
Selain itu, warna huruf “L” pada seri asli cenderung memiliki sentuhan navy yang senada dengan warna collar, sedangkan versi palsu terlihat hitam polos tanpa gradasi.
Perbedaan paling mudah dikenali justru ada pada insole. Pada Adizero FSL asli, tulisan “ADIZERO” memiliki arah dan orientasi yang konsisten antara label luar dan bagian dalam sepatu.
Pada produk palsu, tulisan ini sering terbalik atau tidak sejajar. Jika arah tulisan sudah berbeda, hampir bisa dipastikan sepatu tersebut tidak original.
Tak kalah penting, outsole juga menjadi indikator kuat. Sepatu asli menggunakan rubber berwarna hitam pekat dengan kualitas solid.
BACA JUGA:Sepatu Running 910, Fokus Lari dengan Teknologi Modern dengan Performa Tinggi Harga Kompetitif
Sementara itu, outsole sepatu palsu cenderung terlihat semi-transparan dan bahkan memiliki kode cetakan aneh seperti R2 atau R3 yang tidak ditemukan pada versi resmi.