BACAKORAN.CO - Bagi banyak keluarga Indonesia, Toyota Kijang Super adalah itu. Mobil yang dulu parkir di halaman rumah, dipakai mudik, antar anak sekolah, sampai jadi saksi perjalanan hidup bertahun-tahun.
Ketika kabar Toyota Kijang Super 2026 akan meluncur mulai beredar, reaksi publik terasa berbeda. Bukan sekadar antusias karena model baru, tapi karena rasa “pulang”.
Banyak orang tidak membicarakan spesifikasi lebih dulu, melainkan kenangan.
Saya sendiri tumbuh di era ketika Kijang Super identik dengan warna krem, jok vinyl, dan mesin yang terdengar jujur.
Mobil yang mungkin tidak mewah, tapi selalu bisa diandalkan.
Maka ketika Toyota memutuskan menghidupkan kembali nama ini di 2026, pertanyaannya bukan “berapa tenaganya”, tapi “apa rasanya sekarang?”
Toyota tampaknya paham betul bahwa nostalgia saja tidak cukup. Kijang Super 2026 tidak datang sebagai replika museum, melainkan reinterpretasi.
BACA JUGA:Toyota Kijang Innova 2026: MPV Legendaris dengan Teknologi Masa Depan untuk Keluarga Anda
Bentuknya mengingatkan masa lalu, tapi cara kerjanya jelas hidup di zaman sekarang.
Artikel ini mencoba melihat Kijang Super 2026 bukan hanya sebagai produk otomotif, tapi sebagai strategi emosional Toyota di tengah perubahan selera konsumen Indonesia.
Kijang Super 2026: Desain Lama yang Tidak Dipaksakan
Hal pertama yang paling mudah memancing nostalgia tentu desain. Toyota tidak mencoba “memodernkan secara agresif” wajah Kijang Super.
Siluet kotak tetap dipertahankan, dengan garis bodi tegas dan proporsi yang mengingatkan generasi lama.
Namun ketika diperhatikan lebih dekat, ini bukan desain jadul yang dipoles seadanya. Lampu depan sudah LED dengan bentuk persegi yang sengaja dibuat sederhana.