Pengembangan Kilang untuk Meningkatkan Produksi Domestik
Pemerintah juga terus mendorong pengembangan refinery atau kilang minyak di dalam negeri sebagai langkah strategis untuk meningkatkan produksi energi nasional.
Dengan kapasitas pengolahan yang lebih besar, Indonesia diharapkan mampu mengolah lebih banyak minyak mentah secara mandiri.
Hal ini penting karena kebutuhan energi nasional terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk.
Namun demikian, pemerintah mengakui bahwa produksi minyak dalam negeri atau lifting minyak belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan nasional.
Jika produksi domestik tidak mencapai target sekitar 1,6 juta barel per hari, maka selisih antara kebutuhan minyak mentah dan kemampuan produksi akan dipenuhi melalui impor.
“Selisih antara kebutuhan crude dan kemampuan lifting itulah yang kemudian kita impor,” ujar Bahlil.
Diversifikasi Pasokan LPG
Selain BBM, pemerintah juga memberikan perhatian khusus terhadap pasokan LPG yang menjadi kebutuhan penting masyarakat, terutama untuk kebutuhan rumah tangga.
Saat ini, Indonesia masih mengandalkan impor LPG dalam jumlah cukup besar untuk memenuhi kebutuhan nasional.
BACA JUGA:Berbaju Tahanan, Yaqut Cholil Akui Tidak Terima Sepeserpun dari Kasus Korupsi Kuota Haji!
Dari total kebutuhan LPG nasional, sekitar 7,6 juta ton berasal dari impor.
Menurut data pemerintah, sekitar 70 persen pasokan LPG impor berasal dari Amerika Serikat, sementara sekitar 20 persen berasal dari kawasan Timur Tengah.
Sisanya dipasok dari beberapa negara lain, termasuk Australia.
Untuk mengurangi risiko ketergantungan pada satu wilayah pemasok, pemerintah mulai menerapkan strategi diversifikasi sumber impor LPG. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperluas kerja sama kontrak jangka panjang dengan berbagai negara pemasok.