Kapan Lebaran 2026? Ini Perbedaan Penetapan Idul Fitri Versi Muhammadiyah dan Pemerintah

Sabtu 14 Mar 2026 - 20:32 WIB
Reporter : Melly
Editor : Melly

BACAKORAN.CO - Menjelang berakhirnya bulan suci Ramadan, masyarakat Indonesia biasanya mulai mencari informasi mengenai kapan Hari Raya Idul Fitri akan dirayakan.

Pertanyaan seperti “kapan Lebaran 2026?” menjadi topik yang ramai dibahas, terutama terkait perbedaan metode penentuan awal bulan Syawal antara organisasi Islam dan pemerintah.

Di Indonesia, penetapan Hari Raya Idul Fitri umumnya dilakukan oleh pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia, sementara organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah juga memiliki metode sendiri dalam menentukan awal bulan Hijriah.

Perbedaan metode inilah yang kadang membuat tanggal Lebaran bisa berbeda.

BACA JUGA:Kasasi Kandas, Hakim Tetap Vonis Nikita Mirzani 6 Tahun Penjara dalam Kasus TPPU!

Muhammadiyah Menetapkan Lebaran 2026 Lebih Awal

Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan jadwal Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah melalui maklumat resmi organisasi.

Dalam keputusan tersebut, Muhammadiyah menetapkan bahwa 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Penetapan ini tercantum dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 yang memuat hasil perhitungan astronomi untuk menentukan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah tahun 1447 Hijriah.

Muhammadiyah dapat menentukan tanggal Lebaran jauh hari sebelumnya karena menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yaitu perhitungan astronomi yang menghitung posisi bulan secara matematis.

BACA JUGA:Novel Baswedan Murka! Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras di Jakarta

Metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal

Metode yang digunakan Muhammadiyah mengacu pada prinsip bahwa awal bulan Hijriah dimulai ketika bulan sudah berada di atas ufuk setelah terjadi ijtima atau konjungsi antara matahari dan bulan.

Artinya, jika pada saat matahari terbenam posisi bulan sudah berada di atas garis horizon meskipun belum terlihat secara kasat mata, maka keesokan harinya langsung ditetapkan sebagai hari pertama bulan baru dalam kalender Hijriah.

Pendekatan ini juga merujuk pada konsep Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang digunakan Muhammadiyah untuk menciptakan sistem kalender Islam yang lebih terintegrasi secara global.

Karena berbasis perhitungan astronomi yang pasti, metode ini memungkinkan penentuan tanggal hari raya dilakukan jauh sebelum bulan Ramadan berakhir.

BACA JUGA:Pemerintah Pastikan Cadangan Energi Nasional Aman Jelang Idul Fitri

Pemerintah Menunggu Hasil Sidang Isbat

Kategori :