Menurutnya, penentuan awal Syawal akan dilakukan secara terbuka dengan mempertimbangkan data hisab serta hasil pengamatan hilal dari berbagai titik pemantauan di seluruh Indonesia.
Perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri antara Muhammadiyah dan pemerintah sebenarnya bukan hal baru di Indonesia.
Hal ini disebabkan oleh perbedaan metode yang digunakan dalam menentukan awal bulan Hijriah.
BACA JUGA:Podcast Berujung Teror: Aktivis KontraS Disiram Air Keras Usai Bicara HAM!
Muhammadiyah menggunakan metode hisab yang bersifat matematis dan dapat diprediksi sejak jauh hari.
Sementara pemerintah menggunakan kombinasi hisab dan rukyat yang menunggu hasil pengamatan langsung terhadap hilal.
Perbedaan pendekatan ini kadang menghasilkan tanggal Lebaran yang sama, namun dalam beberapa tahun tertentu juga dapat berbeda.
Meskipun perbedaan penentuan tanggal Lebaran kadang terjadi, masyarakat Indonesia umumnya menyikapinya dengan penuh toleransi.
Tradisi saling menghormati antarumat Islam menjadi bagian penting dalam menjaga keharmonisan.
BACA JUGA:Profil Syamsul Auliya Rachman, Bupati Cilacap Lulusan IPDN yang Ditangkap KPK!
Banyak keluarga bahkan tetap merayakan silaturahmi meskipun merayakan Idul Fitri pada hari yang berbeda.
Hal ini menunjukkan bahwa semangat kebersamaan dan nilai persaudaraan tetap menjadi hal utama dalam merayakan hari kemenangan setelah menjalani ibadah puasa Ramadan.
Muhammadiyah telah menetapkan bahwa Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah akan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama akan menentukan tanggal resmi Lebaran setelah menggelar sidang isbat pada 19 Maret 2026.
Perbedaan metode penentuan ini merupakan bagian dari dinamika dalam tradisi keilmuan Islam.