Sempat Ngotot Izin Melintas, Kini Amerika Serikat Sebut Tak Butuh Selat Hormuz, Kenapa?

Kamis 02 Apr 2026 - 19:00 WIB
Reporter : Yanti D.P
Editor : Yanti D.P

BACAKORAN.CO - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump seperti meremehkan ketergantungan AS pada Selat Hormuz dalam pidato terbarunya membahas perang Iran.

Trump mengklaim bahwa AS "tidak membutuhkan" Selat Hormuz yang adalah bagian dari jalur perairan penting bagi pasokan energi global.

Selat Hormuz, yang juga jalur perairan strategis untuk pasokan minyak dan gas global terdampak oleh perang berkelanjutan antara AS dan Israel melawan Iran.

Aktivitas perlintasan di jalur perairan penting itu telah secara efektif dibatasi sejak awal Maret lalu.

BACA JUGA:Kapal Tanker Malaysia Bebas Tol di Selat Hormuz, Ini Penjelasan Pemerintah

BACA JUGA:Meski Selat Hormuz Ditutup, Trump Bersedia Stop Perang dan Berdamai dengan Iran, Kenapa?

Namun Trump, seperti dilansir CNN, Kamis (2/4/2026), mengatakan bahwa AS tidak begitu membutuhkan Selat Hormuz.

Amerika Serikat hampir tidak mengimpor minyak melalui Selat Hormuz dan tidak akan mengimpornya dari sana di masa mendatang. Kita tidak membutuhkannya," kata Trump dalam pidato terbarunya membahas perang melawan Iran yang disampaikan di Gedung Putih pada Rabu (1/4) malam.

Dengan mencatat bahwa AS merupakan pemimpin dunia dalam produksi minyak dan gas, Trump mengklaim negaranya terlindungi dari guncangan pasokan yang dipicu oleh perang.

Pernyataan itu, sebut CNN, akan sulit diterima oleh banyak warga AS karena mereka merasakan dampak kenaikan harga bensin yang melampaui US$ 4 per galon untuk pertama kalinya sejak tahun 2022.

BACA JUGA:Tak Kunjung Kantongi Izin Melintas, AS Sesumbar Siap Kendalikan Selat Hormuz, Gertakan?

BACA JUGA:Tak Kunjung Kantongi Izin Melintas, AS Sesumbar Siap Kendalikan Selat Hormuz, Gertakan?

Sebelumya Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ungkap pada para pembantunya bahwa ia bersedia untuk mengakhiri perang dengan Iran.

Bahkan jika Selat Hormuz, jalur 20% minyak global dan 25% gas dunia, tetap tertutup.

Hal ini dilaporkan Wall Street Journal (WSJ), mengutip dari CNBC Indonesia, para pejabat administrasi, dimuat Selasa (31/3/2026).

Kategori :