BACAKORAN.CO - Upaya terbaru untuk meredakan konflik di Timur Tengah kembali temui jalan buntu setelah Iran dilaporkan menolak proposal gencatan senjata selama 48 jam yang diajukan oleh Amerika Serikat.
Penolakan Iran ini muncul di tengah meningkatnya intensitas serangan militer dan memburuknya situasi keamanan di kawasan.
Menurut laporan kantor berita semi-resmi Fars News Agency pada Jumat (3/4/2026).
Berdasarkan proposal tersebut disampaikan kepada Teheran melalui sebuah negara yang disebut sebagai "bersahabat" pada Kamis.
BACA JUGA:Presiden Macron Tolak Ribut dengan Iran, Kapal Prancis Melenggang Aman di Selat Hormuz!
BACA JUGA:Selat Hormuz Dibuka Lagi! Kapal Barat Pertama Nekat Melintas di Tengah Ancaman Iran
Kemudian media tersebut mengutip sumber yang mengetahui proses tersebut.
Dilansir Bacakoran.co dari CNBC Indonesia, sumber ini juga menambahkan bahwa Washington meningkatkan upaya diplomatik untuk mengamankan gencatan senjata.
Terutama setelah serangan Iran menargetkan "depot pasukan militer" Amerika Serikat di Pulau Bubiyan, Pulau Bubiyan, yang berada di wilayah Kuwait.
Penilaian yang beredar menyebut proposal tersebut diajukan setelah krisis di kawasan meningkat dan muncul "masalah serius" untuk pasukan AS ini "kesalahan perhitungan" Washington terhadap kemampuan militer Iran.
BACA JUGA:Sempat Ngotot Izin Melintas, Kini Amerika Serikat Sebut Tak Butuh Selat Hormuz, Kenapa?
BACA JUGA:Kapal Tanker Malaysia Bebas Tol di Selat Hormuz, Ini Penjelasan Pemerintah
Laporan itu juga menyebut bahwa respons Iran terhadap tawaran tersebut tidak diberikan secara tertulis, melainkan melalui kelanjutan serangan di medan tempur.
Sebelumya Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump seperti meremehkan ketergantungan AS pada Selat Hormuz dalam pidato terbarunya membahas perang Iran.
Trump mengklaim bahwa AS "tidak membutuhkan" Selat Hormuz yang adalah bagian dari jalur perairan penting bagi pasokan energi global.