BACAKORAN.CO - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyoroti gugurnya tiga prajurit TNI akibat serangan Israel di Lebanon.
Ia mendesak PBB segera mengambil langkah tegas untuk menghentikan penugasan UNIFIL atau memindahkan misi penjaga perdamaian ke lokasi yang lebih aman.
Melalui unggahan di X pada Minggu (5/4/2026), SBY menyampaikan duka mendalam atas gugurnya para prajurit yang tengah bertugas sebagai peacekeeper di Libanon.
"Ketika saya ikut memberikan penghormatan kepada jenasah Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadon, hati saya ikut tergetar," ucap SBY.
BACA JUGA:Heboh! Donald Trump Dikabarkan Dirawat, Gedung Putih Buka Suara
SBY menegaskan, prajurit TNI memang rela berkorban demi negara, namun kondisi di lapangan kini semakin berbahaya.
Ia mendukung langkah Presiden Prabowo Subianto yang meminta PBB melakukan investigasi serius atas insiden beruntun yang menewaskan peacekeeper Indonesia.
"Saya tahu bahwa investigasi dalam situasi pertempuran yang amat dinamis sering tidak mudah. Tetapi, bagaimanapun tetap dapat dilaksanakan dengan harapan hasilnya dapat dinalar dan masuk akal (acceptable, believable narrative)," ucap SBY.
SBY juga mengingatkan bahwa peacekeeper tidak dipersenjatai untuk bertempur, sesuai mandat Chapter 6 Piagam PBB.
BACA JUGA:Viral! Motor Terbakar Usai isi Bensin di SPBU Tegalsari, Petugas Tolak Pinjamkan APAR: Mahal
BACA JUGA:Tragis! Tuan Rumah Tewas Dibacok Preman di Purwakarta Usai Tak Berikan Uang Miras
Namun kenyataannya, posisi mereka kini bergeser dari 'Blue Line' ke 'war zone' yang setiap hari dilanda pertempuran.
"Sekarang ini, kenyataannya yang semula mereka berada di sekitar 'Blue Line' kini sudah berada di 'war zone', yang sehari-hari sudah berkecamuk pertempuran antara pihak Israel dan Hizbullah. Bahkan dikabarkan pasukan Israel sudah maju 7 km dari 'Blue Line'," ucap SBY.
Dengan alasan itu, SBY menilai PBB harus segera mengambil keputusan tegas.