Bahkan, eskalasi liar dalam konflik Iran Amerika ini memicu keretakan internal militer, terbukti saat Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth nekat memecat tiga jenderal angkatan darat sekaligus, termasuk Kepala Staf AD Jenderal Randy George.
Rentetan kerugian dari insiden Iran tembak jatuh jet tempur AS ini membuktikan bahwa Amerika Serikat mulai kehilangan arah kebijakan militernya.
Pukulan Telak bagi Strategi Pertahanan Donald Trump
Hancurnya armada F-15 dan A-10 Warthog membawa makna presitisius bagi Iran dalam pentas politik global.
Chris Doyle, Direktur Council for Arab-British Understanding (CAABU) melalui Al Jazeera, menilai insiden Iran tembak jatuh jet tempur AS ini sebagai pencapaian luar biasa yang merusak skenario Donald Trump. Menurut Doyle, Iran sukses memperlihatkan perlawanan taktis yang mumpuni.
Pada masa awal konflik Iran Amerika, Donald Trump sempat sesumbar bisa mengganti rezim di Iran meski tanpa bantuan sekutu.
Namun strategi itu kini melunak menjadi sekadar janji bahwa AS tidak akan memaksakan pergantian rezim.
Doyle menggarisbawahi bahwa kepemimpinan AS kehilangan kendali.
Mengingat harga satu unit F-15 bisa mencapai US$100 juta, hilangnya F-15 dan A-10 Warthog secara bersamaan membuat kredibilitas negara adidaya itu terjun bebas.
Di sisi lain, Iran lebih leluasa menaikkan tensi eskalasi, serupa dengan sokongan mereka terhadap serangan rudal Houthi ke Israel beberapa waktu lalu.
Krisis Kemanusiaan: Operasi Misi Penyelamatan Kru F-15
Kabar jatuhnya F-15 dan A-10 Warthog tidak hanya soal kerugian mesin, tetapi juga menyisakan misteri nasib para pilot.
Pilot A-10 dilaporkan berhasil selamat, namun nasib kru tempur F-15 masih menggantung.
Laporan intelijen menyebut satu kru F-15 berhasil diselamatkan, sementara satu anggota lainnya berstatus hilang.
Walau Donald Trump bersikukuh insiden Iran tembak jatuh jet tempur AS ini tidak akan mengganggu proses negosiasi bilateral, militer AS di lapangan justru melancarkan operasi pencarian besar-besaran karena panik.
Memanfaatkan kekacauan konflik Iran Amerika ini, otoritas Teheran justru menggelar sayembara dengan imbalan besar bagi siapa saja yang berhasil menemukan pilot tersebut.