Korban menceritakan bahwa untuk keluhan sederhana seperti sakit perut atau tenggorokan, sang oknum dokter justru memaksa melakukan pemeriksaan di area dada.
Pelaku berdalih ada indikasi masalah jantung yang mengharuskan korban membuka kancing baju.
Bahkan ada laporan saksi mata dari sesama mahasiswa yang melihat salah satu korban keluar ruangan dengan kondisi ketakutan dan bingung, disaksikan oleh empat orang lainnya di ruang tunggu klinik.
Tindakan menyimpang oknum tenaga medis tersebut ternyata tidak berhenti di ruang periksa saja.
Beberapa penyintas bersaksi bahwa setelah berobat, mereka mengalami teror mental karena dihubungi melalui pesan singkat WhatsApp, panggilan suara, hingga panggilan video secara berulang.
BACA JUGA:Iblis Sungkem! Kakinya Diikat, Belasan Balita Jadi Korban Kebiadaban Daycare Little Aresha Jogja,
Pelaku dilaporkan kerap memaksa pasien untuk membuka masker di dalam klinik untuk memuji fisiknya secara canggung, lalu meminta nomor kontak pribadi dengan dalih pemantauan medis yang ujungnya berujung pada pesan mengganggu di malam hari.
Hingga rentetan bukti dan kesaksian ini viral membanjiri linimasa media sosial, belum ada klarifikasi resmi yang dikeluarkan oleh pihak Universitas Riau.
Pihak rektorat maupun pengelola klinik kampus belum memberikan pernyataan terbuka mengenai kebenaran kasus dugaan pelecehan seksual yang menimpa sejumlah mahasiswinya ini.
Publik berharap institusi pendidikan dapat mengambil langkah cepat untuk mengusut tuntas skandal ini, melindungi para korban dan memberikan kejelasan terkait sanksi tegas yang akan dijatuhkan kepada oknum dokter tersebut jika terbukti menyalahgunakan profesi medisnya di lingkungan pendidikan.