BACAKORAN.CO -Pasar keuangan global memasuki pekan yang sangat krusial dengan perhatian investor tertuju pada perkembangan geopolitik Timur Tengah dan sejumlah keputusan penting bank sentral dunia. Harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran menjadi sentimen utama yang mendorong perubahan arah berbagai instrumen keuangan.
Pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa peluang tercapainya kesepakatan yang akan membuka kembali Selat Hormuz sekaligus mengakhiri ambisi pengembangan senjata nuklir Iran semakin dekat. Bahkan, kesepakatan tersebut disebut-sebut berpotensi ditandatangani dalam beberapa hari ke depan.
Meski demikian, pernyataan keras dari kedua pihak masih terus bermunculan sehingga pasar tetap berhati-hati dalam merespons perkembangan tersebut.
BACA JUGA:China Desak Navigasi Tanpa Hambatan di Selat Hormuz, Dunia Khawatir Konflik Memanas
Selat Hormuz Jadi Kunci Stabilitas Harga Minyak Dunia
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati kawasan ini setiap hari.
Harapan terbukanya kembali jalur perdagangan energi tersebut langsung menekan harga minyak mentah dunia.
Pada perdagangan terakhir:
Crude Oil turun ke USD 80,98 per barel.
Harga minyak kini jauh lebih rendah dibandingkan dengan puncak ketegangan sebelumnya.
Penurunan harga minyak memberikan sentimen positif bagi negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia, karena berpotensi menekan tekanan inflasi dan mengurangi beban subsidi energi.
BACA JUGA:Trump Janji Buka Selat Hormuz Segera, Dampak Besar bagi Pasokan Energi Global
Emas Kehilangan Daya Tarik Safe Haven
Seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap perdamaian Timur Tengah, minat investor terhadap aset lindung nilai mulai berkurang.
Harga emas dunia (XAU) tercatat berada di level:
XAU Gold: 4.283,41