Pencarian Jasad Diterkam Buaya : Azan Sang Ayah Memecah Sunyi, Pernikahan Ipan Tinggal Menunggu Waktu

Rabu 08 Jul 2026 - 10:11 WIB
Reporter : Doni Bae
Editor : Doni Bae

SUARA AZAN  berkumandang lirih di tepian Sungai Teluk Betung, Kecamatan Pulau Rimau, Banyuasin, Sumatera Selatan Selasa (7/7) malam. Bukan dari menara masjid atau musala, melainkan dari seorang ayah yang berdiri menghadap aliran sungai yang tenang.

Dengan suara yang bergetar menahan duka, ia mengumandangkan panggilan suci itu sambil berharap satu hal: putranya, Ipan Nurzaman (26), yang sebelumnya hilang diduga akibat di terkam buaya saat memperbaiki kemudi jukung segera ditemukan.

Di sekelilingnya, perahu-perahu tim gabungan masih menyisir permukaan sungai. Warga menghentikan sejenak aktivitasnya. Beberapa menundukkan kepala. Ada yang mengusap mata. Suasana pencarian mendadak berubah haru ketika lantunan azan menggema di lokasi yang sehari sebelumnya menjadi saksi tragedi.

Tak seorang pun menyangka, pencarian seorang perantau asal Kampung Cilaten, Bandung, Jawa Barat, itu kini diiringi doa seorang ayah yang menolak kehilangan harapan.

BACA JUGA:Perbaiki Kemudi Jukung, Pekerja Asal Bandung Diterkam Buaya

BACA JUGA:Ih Ngeri, Warga Tulung Selapan Angkat Buaya Besar Tanpa Alat Pengaman

Keluarga Ipan tiba di Desa Teluk Betung setelah menerima kabar putra mereka diduga diterkam buaya muara saat membantu memperbaiki kemudi jukung di Sungai Teluk Betung. "Iya, keluarganya sudah datang ke sini," ujar Kepala Desa Teluk Betung, M. Ali.

Dari keluarga pula terungkap sebuah cerita yang membuat peristiwa ini terasa semakin pilu. Sekitar dua bulan lagi, Ipan dijadwalkan menikahi perempuan pujaan hatinya di Jawa Barat. "Rencananya sekitar dua bulan lagi menikah. Calonnya juga orang Jawa Barat," ungkap M. Ali.

Impian membangun rumah tangga itu kini tergantung pada pencarian yang belum juga menemukan titik terang.

Seperti banyak anak muda lainnya, Ipan meninggalkan kampung halaman untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Ia sempat bekerja di PT Trans Energi Indonesia. Namun, ketika perusahaan melakukan pengurangan tenaga kerja, ia harus mengakhiri pekerjaannya.

BACA JUGA:8 Besar Piala Dunia 2026: Pulangkan Kolombia, Swiss Tantang Argentina

BACA JUGA:Hasil Piala Dunia 2026: Comeback Argentina Bikin Mesir Angkat Koper, Komentar Scaloni Bikin Mewek

Di tempat barunya bekerja, Ipan bukan sekadar pekerja. "Bahkan sudah dianggap adik oleh pemilik tempat korban bekerja," tutur M. Ali.

Keramahannya membuat warga cepat menerima kehadiran pemuda asal Bandung itu.

Peristiwa pekerja asal Bandung diterkam buaya di Sungai Teluk Betung Banyuasin terjadi Senin (6/7) sekitar pukul 02.00 WIB. Malam itu, Ipan bersama tiga rekannya memperbaiki kemudi jukung di Dermaga Ujang.

Saat salah satu bagian kemudi membutuhkan bantuan dari dalam air, Ipan turun ke sungai membantu beberapa temannya yang sudah lebih dulu ke dalam sungai tanpa mengetahui bahwa kawasan tersebut merupakan habitat buaya muara.

BACA JUGA:Mayat Masyuron Ditemukan Terikat Motor di Rawa Prabumulih, Pernah Mencoba Mengakhiri Hidup

BACA JUGA:Arogan! Wanita Diduga Oknum Polisi Pamer KTA Usai Ditegur Ngebut: Malah Pukul Korban dan Teriak Maling

Bahkan dari rekaman kamera CCTV yang ada di dermaga, tampak terlihat buaya yang muncul ke permukaan sungai di dekat beberapa rekan Ipan. Sementara Ipan sendiri ketika itu masih berada di atas dermaga dan siap-siap masuk ke air.

Anehnya, 3 rekan  Ipan ketika itu sudah berada di air tak ada satupun yang di ganggung buaya. Namun beberapa saat ketika Ipan menceburkan diri ke dalam air, diduga tubuhnya langsung di terkam buaya dan menariknya ke dalam sungai.

Rekan-rekannya hanya sempat melihat kepala Ipan muncul ke permukaan beberapa saat sebelum akhirnya menghilang.

Ketiga rekannya naik ke daratan dalam keadaan panik dan trauma, lalu melaporkan kejadian itu kepada aparat desa dan kepolisian.

BACA JUGA:Musim Panas Makin Ganas! Begini Cara Menjaga Kesehatan agar Tetap Fit Meski Cuaca Terik

BACA JUGA:Motor Paling Irit 2026, Honda BeAT Masih Rajanya? Ini Daftar Skutik Super Hemat BBM yang Layak Diburu

Hingga Selasa, tim gabungan bersama warga masih menyisir aliran Sungai Teluk Betung menggunakan perahu. Arus sungai yang deras, air yang keruh, serta luasnya kawasan rawa membuat proses pencarian tidak mudah.

Polisi juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di kawasan sungai, terutama pada malam hari, untuk menghindari risiko serangan satwa liar.

Bagi warga Teluk Betung, tragedi ini bukan hanya tentang konflik manusia dan buaya yang kembali terjadi di perairan Sumatera Selatan. Ini juga tentang seorang anak yang merantau demi masa depan, bekerja keras setelah kehilangan pekerjaan, dan menabung harapan untuk membangun keluarga.

Kini, harapan itu berganti menjadi doa-doa yang dipanjatkan di tepian sungai. Azan yang dikumandangkan sang ayah bukan sekadar panggilan untuk salat. Di balik setiap lafaznya tersimpan kerinduan, kepasrahan, dan harapan agar putranya segera kembali, apa pun keadaannya.

BACA JUGA:Mengapa Mencampur Uang Bisnis dan Pribadi Adalah Cara Tercepat Membunuh Usaha Mikro?

BACA JUGA:Menembus Batas Kultur Kustom Mengapa Royal Enfield Shotgun 650 Jadi Moge Paling Provokatif di Jalanan?

Sementara mesin perahu terus meraung memecah keheningan Sungai Teluk Betung, seorang ayah masih memandang permukaan air yang sama. Di sanalah mimpi tentang pesta pernikahan berubah menjadi penantian panjang. Sebab, bagi keluarga, kepulangan seorang anak tetap menjadi akhir yang paling mereka nantikan.

Kategori :