Kesalahan Beli Reksadana, Kenapa Investor Masih Rugi?

Kamis 09 Jul 2026 - 11:20 WIB
Reporter : djarwo
Editor : djarwo

 

Kesalahan Beli Reksadana, Kenapa Investor Masih Rugi?

BACAKORAN.COReksadana masih menjadi salah satu instrumen investasi yang banyak dipilih masyarakat Indonesia karena modal awalnya relatif terjangkau dan dikelola oleh manajer investasi profesional. Namun, tidak sedikit investor yang mengaku tetap mengalami kerugian meski sudah rutin menabung selama bertahun-tahun.

Kondisi tersebut sering menimbulkan pertanyaan, apakah reksadana benar-benar menguntungkan? Jawabannya, potensi keuntungan tetap ada, tetapi hasil investasi sangat dipengaruhi oleh cara investor memilih produk, memahami risiko, serta menentukan tujuan investasi.

Otoritas Pasar Modal terus mengingatkan bahwa seluruh instrumen investasi, termasuk reksadana, memiliki risiko.

BACA JUGA:Investasi Aman 2026: Aset Tahan Krisis yang Bisa Berlipat Ganda

Karena itu, investor perlu memahami karakteristik produk sebelum menempatkan dana agar tidak memiliki ekspektasi yang keliru.

Reksadana Bukan Instrumen Bebas Risiko

Reksadana merupakan wadah yang menghimpun dana dari masyarakat untuk kemudian diinvestasikan ke berbagai instrumen, seperti saham, obligasi, dan pasar uang. Dana tersebut dikelola oleh manajer investasi sesuai dengan kebijakan masing-masing produk.

Nilai investasi reksadana tercermin dalam Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit penyertaan, yang dapat naik maupun turun mengikuti kondisi pasar.

Ketika pasar saham atau obligasi melemah, nilai reksadana juga berpotensi mengalami penurunan.

BACA JUGA:Cara Membangun Portofolio Investasi Reksa Dana untuk Pemula dari Nol Mulai Bulan Juli

Karena itu, kerugian sementara merupakan hal yang dapat terjadi, terutama bagi investor yang berinvestasi dalam jangka pendek.

Kesalahan Pertama: Salah Memilih Jenis Reksadana

Salah satu penyebab paling umum investor mengalami kerugian adalah memilih jenis reksadana yang tidak sesuai dengan tujuan investasi.

Sebagai contoh, seseorang yang membutuhkan dana dalam waktu satu tahun justru membeli reksadana saham.

Padahal, reksadana saham lebih sesuai untuk investasi jangka panjang karena pergerakan nilainya cenderung lebih fluktuatif.

Sebaliknya, untuk kebutuhan dana jangka pendek, investor biasanya lebih mempertimbangkan reksadana pasar uang yang memiliki tingkat risiko relatif lebih rendah.

BACA JUGA:5 Saham Blue Chip Terbaik Semester II 2026, Cocok untuk Investasi Jangka Panjang

Terlalu Fokus pada Return Tertinggi

Kategori :