BACAKORAN.CO - Mobil listrik semakin populer karena dianggap menawarkan biaya perawatan yang jauh lebih rendah dibandingkan mobil bermesin bensin maupun diesel.
Tanpa oli mesin, busi, filter udara mesin, hingga berbagai komponen pembakaran yang harus diganti secara berkala, banyak orang menyimpulkan bahwa memiliki mobil listrik otomatis lebih hemat.
Anggapan tersebut memang memiliki dasar, tetapi tidak sepenuhnya menggambarkan biaya kepemilikan secara keseluruhan.
Faktanya, di balik biaya servis rutin yang relatif ringan, terdapat komponen bernilai sangat tinggi yang menjadi perhatian utama, yaitu baterai tegangan tinggi atau high-voltage battery.
BACA JUGA:Harga Kopi Robusta Lampung Tengah Pekan Ini: Simak Prediksi Pergerakan Pasar Global Terkini
BACA JUGA:Heboh! Rumah Mewah Ruben Onsu Digadai 10,1 Miliar untuk Biaya Renovasi, Ini Fakta Sebenarnya
Pada sejumlah model mobil listrik, nilai paket baterai dapat mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Pada kendaraan tertentu, biaya penggantian baterai bahkan dapat mendekati Rp300 juta, tergantung merek, kapasitas baterai, teknologi yang digunakan, serta ketersediaan suku cadang.
Meski demikian, bukan berarti setiap pemilik mobil listrik pasti akan mengeluarkan biaya sebesar itu.
Sebagian besar produsen memberikan garansi baterai hingga delapan tahun atau sekitar 160.000 kilometer, bahkan ada yang lebih panjang.
BACA JUGA:Rupiah Hari Ini Diprediksi Bergerak di Rp17.920-Rp18.020 per Dolar AS, Pasar Cermati Keputusan BI
BACA JUGA:Mentan Amran Janjikan Stop Impor Susu, Ini Syaratnya
Selama masa garansi dan sesuai ketentuan pabrikan, kerusakan akibat cacat produksi umumnya akan ditanggung.
Namun setelah masa garansi berakhir, seluruh biaya perbaikan atau penggantian dapat menjadi tanggung jawab pemilik kendaraan.
Inilah yang sering luput dari perhatian calon pembeli.
Banyak orang hanya membandingkan biaya isi daya listrik dengan harga BBM, tanpa menghitung risiko jangka panjang apabila kendaraan digunakan selama bertahun-tahun.
BACA JUGA:Timnas Basket 3x3 Putri Cari Pengalaman di Batam Stop sebelum Tampil di Asian Games 2026
BACA JUGA:NOC Indonesia Tetapkan Syarat Atlet Skema Mandiridi Asian Games 2026
Padahal, baterai merupakan komponen paling mahal dalam sebuah mobil listrik.
Selain baterai, terdapat beberapa komponen lain yang juga memiliki nilai tinggi, seperti inverter, motor listrik, modul pengontrol daya, sistem pendingin baterai, hingga perangkat elektronik bertegangan tinggi.
Kerusakan memang tidak selalu terjadi, tetapi jika muncul setelah masa garansi berakhir, biaya perbaikannya bisa jauh lebih besar dibandingkan perbaikan mobil konvensional.
Di sisi lain, mobil listrik memang menawarkan sejumlah keuntungan yang tidak bisa diabaikan.
BACA JUGA:5 Hal Wajib Cek Sebelum Beli Mobil Listrik Bekas yang Harganya Anjlok Turun Sampai 50 Persen
BACA JUGA:Mulai 25 Juli, 8 Tim Berebut Rp 6 Miliar Hadiah Juara Piala Presiden, Catat Jadwal Pertandingannya
Jadwal servis berkala umumnya lebih sederhana karena tidak memerlukan penggantian oli mesin, oli transmisi konvensional, busi, timing belt, atau berbagai komponen pembakaran lainnya.
Hal ini membuat biaya servis tahunan cenderung lebih rendah.
Namun, rendahnya biaya servis tidak sama dengan rendahnya risiko biaya kepemilikan.
Karena itu, calon pembeli sebaiknya melihat keseluruhan biaya selama kendaraan dimiliki atau Total Cost of Ownership (TCO).
BACA JUGA:Daftar Mobil Bekas Paling Mahal Dijual Lagi Juli 2026: Innova Reborn, Jimny hingga Land Cruiser
BACA JUGA:5 Mobil Bekas Mesin Bensin yang Tetap Dicari di Tahun 2026 Saat Model Lain Mulai Dihindari
Perhitungan ini mencakup harga beli, biaya listrik, servis berkala, asuransi, pajak, pemasangan home charger, penyusutan nilai jual, hingga potensi biaya penggantian komponen utama apabila kendaraan dipakai dalam jangka panjang.
Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah nilai jual kembali.
Perkembangan teknologi baterai berlangsung sangat cepat.
Mobil listrik generasi baru umumnya menawarkan jarak tempuh yang lebih jauh, efisiensi lebih baik, dan pengisian daya yang lebih cepat.
BACA JUGA:Update Kasus Viral Unesa: 3 Mahasiswa Dilecehkan Dosen dan Mahasiswi, Sanksi Rekam Permintaan Maaf
BACA JUGA:Bosan WFH? Ini 6 Co-Working Space di Jaksel yang Nyaman dan Instagramable
Kondisi tersebut dapat memengaruhi harga mobil listrik bekas sehingga penyusutannya berpotensi lebih tinggi dibandingkan beberapa mobil konvensional.
Calon pembeli juga disarankan memahami pola penggunaan kendaraan.
Jika mobil digunakan setiap hari dengan jarak tempuh tinggi dan dapat diisi daya di rumah, penghematan operasional mungkin mampu mengimbangi sebagian biaya kepemilikan.
Sebaliknya, jika kendaraan hanya dipakai sesekali, selisih penghematan listrik dibandingkan BBM mungkin tidak terlalu signifikan.
BACA JUGA:Kamboja Gagalkan Skenario Juara Indonesia di SEA V Cup 2026 Leg Pertama
BACA JUGA: Mobil Bekas Paling Laris di Palembang dan Sumatera 2026, Harga Stabil dan Mudah Dijual Lagi
Kesimpulannya, mobil listrik tetap menjadi inovasi yang menjanjikan dan menawarkan banyak keuntungan dari sisi efisiensi energi serta biaya servis rutin.
Namun, keputusan membeli sebaiknya tidak hanya didasarkan pada anggapan bahwa perawatannya murah.
Memahami risiko biaya komponen utama yang nilainya dapat mencapai ratusan juta rupiah akan membantu calon pembeli mengambil keputusan yang lebih rasional.
Dengan mempertimbangkan seluruh biaya dan potensi risiko sejak awal, kepemilikan mobil listrik dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan finansial masing-masing.