Kenaikan harga energi dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global.
Kondisi tersebut kemudian mendorong investor kembali memperhitungkan kemungkinan
kebjakan moneter yang lebih ketat dari bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.
Pasar juga mencermati pernyataan Gubernur The Fed, Kevin Warsh, yang sebelumnya menyebut bahwa perjuangan melawan inflasi masih belum selesai.
Pernyataan tersebut memperkuat spekulasi bahwa The Fed masih dapat mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi atau mengambil langkah pengetatan apabila tekanan inflasi kembali meningkat.
BACA JUGA:Baru Mulai Investasi? Hindari 5 Kesalahan yang Sering Tak Disadari
Yen Jepang Kembali Tertekan
Sementara itu, yen Jepang (JPY) kembali mengalami pelemahan signifikan terhadap dolar AS.
JPY bergerak di kisaran 163 per USD, yang dalam data pasar yang digunakan menjadi level terlemah sejak 1986.
Pelemahan yen menjadi perhatian karena perbedaan arah kebijakan moneter dan imbal hasil antara Jepang dan Amerika Serikat masih menjadi salah satu faktor utama pergerakan mata uang tersebut.
Yen yang melemah juga dapat meningkatkan tekanan terhadap biaya impor Jepang, khususnya ketika harga energi global mengalami kenaikan.
BACA JUGA:Jangan Tunggu Kaya! Modal Rp500 Ribu Sudah Cukup untuk Memulai Investasi
Harga Emas Ikut Menguat
Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, harga emas juga berada pada level tinggi.
Harga XAU atau emas tercatat di level 4.080,78.
Penguatan emas sejalan dengan meningkatnya permintaan aset safe haven.