BACAKORAN.CO – Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, kembali diguncang gempa susulan berkekuatan magnitudo 4,9 pada Senin pagi, 17 Agustus 2026.
Guncangan itu memicu kerusakan parah pada akses jalan utama menuju Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Ropa.
Badan jalan retak panjang dengan celah cukup lebar akibat pergeseran tanah, mengancam pasokan energi kawasan sekaligus mobilitas harian warga sekitar.
Video lapangan yang beredar memperlihatkan kondisi infrastruktur vital yang memprihatinkan di tengah rangkaian gempa besar M 7,7 yang melanda Flores sejak 15 Agustus.
BACA JUGA:Viral! Dua Bendera Berkibar dari Banda Aceh hingga Sanggau, Netizen Tanyakan: Tanda Apa Ini?
Gempa utama berkekuatan M 7,7 mengguncang wilayah timur laut Mbay, Nagekeo, pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul sekitar 04.58 WIB.
Pusat gempa berada di sesar naik busur belakang Flores (Flores Back-Arc Thrust) dengan kedalaman dangkal.
Guncangan memicu peringatan dini tsunami (meski gelombang yang tercatat relatif kecil), kerusakan bangunan masif, serta korban jiwa yang terus diperbarui oleh BNPB.
Hingga Senin pagi 17 Agustus, BMKG mencatat lebih dari 1.500 gempa susulan, dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2.
Sekitar 50-an di antaranya dirasakan masyarakat. Aktivitas seismik diperkirakan akan meluruh dalam 2–3 minggu ke depan.
Di tengah kondisi tersebut, gempa M 4,9 yang dirasakan di Kabupaten Ende pada Senin pagi kembali memicu kekhawatiran baru, khususnya terhadap infrastruktur strategis.
Kerusakan Akses Vital ke PLTU Ropa
Sebagaimana dikutip dari akun X @indepenSumatera pada tanggal 17 Agustus 2026, akses jalan utama menuju PLTU Ropa mengalami retakan parah.
“ENDE DALAM DARURAT. Akses Vital PLTU Ropa Retak Parah Dihantam Gempa M 4,9!” tulis @indepenSumatera.
Video yang dilampirkan menunjukkan badan jalan beton/aspal retak memanjang dengan celah lebar, pergeseran struktur tanah yang jelas, dan kondisi yang membuat kendaraan sulit melintas aman.