“I told the regents to use this initial funding first. If there is a shortfall, notify us,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari laporan Antara.
BACA JUGA:Mabuk Bawa Golok, Terobos Acara Yasinan Pakai Mobil, Pria di Lubuklinggau Nyari Tewas Dihajar Massa
Selain itu Kemensos menyalurkan bantuan logistik, sembako, beras, tenda, dan santunan (Rp15 juta untuk ahli waris korban meninggal, Rp5 juta untuk korban luka).
BNPB mengirim ratusan ton logistik melalui jalur udara dan laut.
Pemprov DKI Jakarta mengirim bantuan senilai Rp5,8 miliar.
Danantara dan BUMN menghimpun donasi publik sekitar Rp2,16 miliar melalui kegiatan kesenian rakyat.
Berbagai kementerian dan daerah lain juga mengirim bantuan pangan, medis, dan peralatan.
BACA JUGA:Dituduh Selingkuh, Buruh Proyek Meregang Nyawa Setelah Dikeroyok di Rumah Kades
Pemerintah menegaskan negara hadir.
Deputi BNPB Abdul Muhari menyatakan bantuan Presiden dan pemerintah dipastikan diterima langsung warga terdampak.
Mengapa Publik Bereaksi Keras?
Kritik utama berpusat pada tiga poin:
Penggunaan logo jabatan negara berdampingan dengan rekening perusahaan swasta (PT RANS Entertainment).
Persepsi bahwa pejabat atau utusan khusus seharusnya fokus menyalurkan anggaran negara, bukan menggalang donasi publik dengan embel-embel resmi.
Perbandingan dengan program MBG yang menyerap anggaran sangat besar, sementara bantuan bencana awal “hanya” Rp44 miliar.
BACA JUGA:Kabur dan Lompat dari Jembatan, Dua Pemuda di Lubuk Linggau Ternyata Bawa 98 Ekstasi
“Blunder parah banget. Karena mereka terang-terangan nolak bantuan negara lain bilang mampu. Lha ini dikira negara lain gak bisa lihat jejak digital kalau mereka open donasi,” tulis @rnddeysqt.