BACA JUGA:Arus Sungai Ogan Kembali Telan Korban, Mandi di Tepi Sungai, Pemuda Terseret Arus
“Nanti kita yang pusing,” ujarnya dalam cuplikan yang beredar luas.
Sebagaimana dikutip dari akun X @dodisegrovee pada 30 Agustus 2026, postingan yang memuat video pernyataan tersebut mendapat puluhan ribu likes dan ribuan repost dalam waktu singkat.
Reaksi netizen umumnya sejalan dengan kritik tersebut.
“Tlol bgt jir pikirannya, asap tebal bgt gitu siapa yg betah diluar. Mentingin MBG nomor satu, orang-orang udah kena ISPA, MBG masih dipikirin,” tulis @paceyoiw.
Akun lain menambahkan bahwa prioritas seharusnya adalah kesehatan peserta didik, bukan kekhawatiran operasional dapur.
Di sisi lain, Badan Gizi Nasional (BGN) memang telah menetapkan mekanisme bahwa distribusi MBG mengikuti operasional sekolah.
Ketika sekolah diliburkan atau beralih ke daring karena karhutla, penyaluran MBG dihentikan sementara (kecuali makanan yang sudah terlanjur dimasak pada hari pertama).
Kepala BGN Sudaryono menjelaskan bahwa SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) bekerja sesuai jam operasional sekolah.
Kebijakan ini berlaku di wilayah terdampak, termasuk Kalteng, Kalsel, Kalbar, dan sebagian Sumatra.
Pemerintah daerah dan pusat terus berupaya mengatasi karhutla melalui satgas gabungan, normalisasi kanal, dan operasi modifikasi cuaca.
Masyarakat diimbau tetap waspada, menggunakan masker, mengurangi aktivitas luar ruangan, dan memantau kualitas udara.
Bagi orang tua, menjaga anak tetap di dalam ruangan yang relatif lebih aman serta memantau gejala gangguan pernapasan menjadi langkah praktis yang bisa dilakukan.