BPS juga menegaskan bahwa desil bukan ukuran langsung berdasarkan jumlah pendapatan atau kekayaan seseorang.
Penentuan posisi desil mempertimbangkan berbagai karakteristik sosial ekonomi, antara lain kondisi rumah, sumber air, energi untuk memasak, kepemilikan aset, listrik, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, hingga komposisi keluarga.
Karena itu, seseorang yang masuk desil tertentu tidak otomatis dapat disebut kaya atau miskin dalam pengertian sehari-hari.
BACA JUGA:Bansos Agustus 2026: PKH Tahap 3, BPNT dan Beras 10 Kg Cair, Cek Status Penerima Lewat HP
Mengapa Desil Bisa Menentukan Bansos?
Data desil digunakan pemerintah sebagai salah satu dasar untuk menentukan sasaran berbagai program perlindungan sosial.
Pada laman resmi Cek Bansos Kemensos, DTSEN menjadi sumber data penerima manfaat. Sistem tersebut juga menjelaskan bahwa desil bersifat dinamis dan dapat diperbarui apabila kondisi keluarga tidak sesuai dengan data.
Untuk program tertentu, kelompok desil 1 hingga 4 atau 40 persen terbawah dapat diusulkan sebagai penerima PKH dan Program Sembako. Namun, desil tetap harus dibaca sesuai ketentuan masing-masing program.
Artinya, munculnya informasi bansos di ponsel seseorang tidak otomatis berarti orang tersebut secara ekonomi tergolong sangat miskin.
Angka Kemiskinan Indonesia Memang Turun
Perdebatan di Twitter juga muncul ketika pembahasan desil dikaitkan dengan klaim keberhasilan pemerintah menurunkan kemiskinan.
Berdasarkan data terbaru BPS, persentase penduduk miskin Indonesia pada Maret 2026 tercatat 8,07 persen atau sekitar 22,93 juta orang.
Angka tersebut turun 0,18 poin persentase dibanding September 2025 dan turun 0,40 poin dibanding Maret 2025.
Data ini menunjukkan bahwa angka kemiskinan secara statistik memang mengalami penurunan.
Namun, penurunan angka kemiskinan nasional tidak berarti seluruh masyarakat otomatis mengalami peningkatan kesejahteraan dalam waktu bersamaan. Kondisi ekonomi setiap keluarga tetap berbeda.
BACA JUGA:Daftar Kategori Penerima Bansos PKH 2026, Ada Ibu Hamil, Balita, Lansia hingga Anak Sekolah
Tren Opini Publik: Antara Data dan Pengalaman Warga
Percakapan mengenai desil menunjukkan satu hal menarik: data pemerintah dan pengalaman masyarakat bisa dipersepsikan berbeda.
Pemerintah membutuhkan sistem pemeringkatan untuk menentukan prioritas bantuan dengan basis data yang lebih terintegrasi. Sementara masyarakat cenderung menilai kondisi ekonomi berdasarkan pengalaman sehari-hari, seperti pendapatan, harga kebutuhan pokok, cicilan, pekerjaan, dan kemampuan memenuhi kebutuhan keluarga.