BACAKORAN.CO - Percakapan soal desil bansos kembali ramai di Twitter setelah akun Ommi de Queen (@ommi_siregar) menyinggung cara pemerintah mengelompokkan kesejahteraan masyarakat.
Unggahan tersebut menarik perhatian karena menyentil pengalaman warga yang mendapat notifikasi bansos, tetapi merasa kondisi ekonominya sebenarnya masih cukup.
Tweet Ommi de Queen soal Desil Bansos
Dalam unggahannya, Ommi de Queen mempertanyakan sistem desil dengan gaya satir.
“Kalian yg merasa miskin, coba cek Desil-nya, biasanya langsung jadi kaya.”
Ia kemudian mengaku tidak terlalu memahami sistem desil, meski beberapa kali mendapat informasi di ponselnya mengenai pencairan bansos.
Unggahan tersebut kemudian berkembang menjadi pembicaraan mengenai bagaimana pemerintah menentukan siapa yang masuk kelompok masyarakat miskin atau rentan.
BACA JUGA:Desil 9-10 Berpotensi Dilarang Beli BBM Subsidi, Simak Kriteria Pengeluaran Lengkapnya
Desil Bansos Jadi Bahan Perdebatan
Topik ini mudah memancing reaksi karena istilah desil masih terdengar asing bagi sebagian masyarakat.
Ada warganet yang melihat sistem tersebut sebagai cara pemerintah memperbaiki pendataan penerima bantuan agar lebih tepat sasaran.
Di sisi lain, nada kritis juga muncul karena sebagian masyarakat mempertanyakan bagaimana kondisi ekonomi seseorang bisa ditentukan melalui sebuah peringkat.
Humor pun menjadi bagian dari percakapan. Kalimat tentang orang yang merasa miskin tetapi disebut berada pada kelompok kesejahteraan tertentu dianggap menggambarkan kebingungan masyarakat terhadap istilah desil.
Namun, penting dicatat, desil bukan berarti seseorang dinyatakan kaya atau miskin secara mutlak.
Apa Itu Desil dalam DTSEN?
Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan bahwa desil merupakan pengelompokan keluarga berdasarkan posisi relatif tingkat kesejahteraan.
Ada 10 kelompok desil. Desil 1 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah, sedangkan desil 10 berada pada posisi relatif paling tinggi.